Dari lembar saham ke era digital



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Virus digital juga merasuk ke pasar modal. Semula, transaksi efek melibatkan lembaran saham di sebuah trading floor. Kini semua berubah dan beralih ke sistem digital atau scripless.

Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) juga dituntut adaptif terhadap perkembangan zaman. "Teknologi adalah pendukung utama percepatan semua hal di bursa saham, baik dari sisi pencatatan, perdagangan maupun analisis," kata Direktur Penialian Perusahaan BEI Samsul Hidayat, belum lama ini.

Era perdagangan digital pun bergulir. Semua transaksi berlangsung cepat, efektif dan efisien. Pasar pun cepat beraksi apabila ada isu yang menjadi sentimen bagi emiten. Dari sini, pergerakan indeks saham pun lebih sensitif. Informasi sedikit saja bisa mempengaruhi psikologi pasar.


Kemajuan teknologi berefek luas. Ada kemudahan bagi investor, emiten dan calon emiten untuk mendapatkan informasi dari pasar modal. "Dampak ke volume transaksi juga terasa, karena investor mengetahui informasi lebih cepat," lanjut Samsul.

Sebelum berubah ke teknologi digital seperti saat ini, bursa saham pernah menggunakan Sistem Perdagangan Tanpa Warkat (scripless trading) pada 2000. Dua tahun berikutnya, Bursa Efek Jakarta (BEJ) mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh alias remote trading. Lalu di Maret 2009, otoritas BEI menerapkan sistem perdagangan baru, JATS-NextG.

Proses digitalisasi bukan hanya mempengaruhi pola perdagangan, tapi juga proses bisnis dan produk perusahaan yang dihasilkan. Misalnya, perusahaan digital mulai masuk bursa saham.

Di pasar modal, kehadiran emiten digital menarik perhatian. Adalah PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) sebagai perusahaan startup pertama yang mencatatkan sahamnya di BEI. Setelahnya, PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) menyusul.

Alternatif pendanaan lewat pasar modal pun menjadi pilihan. Startup level unicorn seperti Go Jek dan Grab juga menyatakan minat untuk IPO di bursa saham Indonesia.

Sadar akan perubahan zaman, saat ini otoritas bursa mendorong perusahaan rintisan untuk bisa masuk program coaching yang dikenal dengan IDX Incubator. Program ini mulai berjalan pada 20 April 2017. Sektornya pun beragam, seperti e-commerce, education, fintech, internet of things (IoT), lifestyle, news media dan perangkat lunak berbentuk layanan.

Samsul menyatakan, BEI siap mendampingi startup untuk mendapat fasilitas pendanaan di pasar modal. Terutama perusahaan yang siap dan layak secara bisnis. Lewat IDX Inkubator, BEI mendampingi startup untuk memecahkan beberapa kendala.

Saat ini, ada 45 perusahaan yang terdaftar dalam IDX Incubator. Mereka mendapatkan pendampingan dan fasilitas, sampai benar-benar matang. Upaya itu membuahkan hasil. Samsul bilang, akan ada sekitar 1–2 perusahaan rintisan yang siap IPO pada tahun depan. "Ini yang masuk dalam rencana 35 perusahaan IPO tahun depan. Mereka sudah komersial dan bergerak di bidang e-commerce," lanjut dia.

Berkembangnya teknologi juga turut mendongkrak volume transaksi di pasar modal. Dari tahun ke tahun, volume perdagangan di bursa saham terus meningkat.

Demi mengantisipasi melonjaknya transaksi, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menyiapkan upgrade teknologi sistem utama penunjang transaksi. "Pengembangan kami atas persetujuan OJK juga. Tahun depan, akan ada launching sistem utama kami," kata Direktur Utama KSEI Friderica Widyasari Dewi, kepada KONTAN, Senin (18/12) lalu.

Sistem utama yang dimaksud adalah The Central Depository and Centralize Book Entry Settlement System (C-BEST). Sistem ini untuk mengoperasikan seluruh kegiatan penyimpanan dan penyelesaian transaksi efek secara pemindahbukuan. Ini adalah platformelektronik terpadu. Nah, sebagian besar kegiatan operasional KSEI mengandalkan sistem C-BEST ini.

Sistem yang ada saat ini digunakan sejak pertama kali KSEI berdiri dan sudah berusia lanjut. Pembaharuan perlu dilakukan agar ada peningkatan kapasitas. "Jadi kalau transaksi di bursa angkanya melejit pun kami masih sanggup," kata Friderica.

Kelak, KSEI bisa menangani transaksi dengan volume lebih besar. Dalam peningkatan kemampuan ini, KSEI menggandeng Nasdaq OMX. Proyek yang menggandeng mitra global ini diperkirakan menelan investasi yang besar. Tapi, Friderica enggan membocorkan nilai investasi itu.

Selain memperbaharui alat, KSEI melakukan kajian dematerialisasi. Program ini sebagai langkah migrasi dari scrip menjadi scripless. Meski transaksi pasar modal di Indonesia sudah scripless trading, ternyata masih ada yang menggunakan scrip.

Dengan nilai kapitalisasi pasar saham Rp 6.500 triliun, saat ini saham yang tersimpan di KSEI, atau yang scriples, hanya Rp 4.200 triliun. "Jadi masih ada sekitar Rp 2.000 triliun yang masih menggunakan scrip," lanjut Friderica.

Oleh karena itu, KSEI berniat mendorong upaya dematerialisasi. Untuk itu, KSEI akan meminta persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie