KONTAN.CO.ID - Menjelang setiap pertandingan Piala Dunia, penonton di seluruh dunia kerap menyaksikan ritual khas para pemain sepak bola yang berdiri membentuk lingkaran sambil mengoper bola cepat dalam sesi pemanasan. Namun di Rio de Janeiro, Brasil, lingkaran itu bukan sekadar pemanasan. Aktivitas tersebut justru telah berkembang menjadi permainan tersendiri yang dikenal dengan nama altinha.
Baca Juga: Kinerja SCG Melonjak di Kuartal I-2026, Penjualan di Indonesia Naik 16% Altinha dimainkan dengan menjaga bola tetap melayang di udara menggunakan bagian tubuh selain tangan dan lengan. Permainan ini populer di pantai-pantai dan lapangan lingkungan di Rio sebagai ajang hiburan sekaligus unjuk keterampilan. “Rasanya luar biasa. Saat bermain, kami seperti melupakan semua masalah,” ujar Patrick Emanuel, pemuda 21 tahun yang rutin bermain altinha di dekat Stadion Engenhao, Rio de Janeiro dilansir dari Reuters Jumat (29/5/2026). Setiap Senin malam, ratusan orang berkumpul di area tersebut untuk memainkan permainan yang telah menjadi bagian dari budaya sepak bola Brasil itu. Sutradara dokumenter pemenang penghargaan “Bola Pro Alto”, Cecilia Lang, mengatakan altinha mulai berkembang di pantai-pantai Rio sejak era 1960-an ketika sepak bola pantai tengah booming.
Baca Juga: El Nino Diperkirakan Memuncak pada Musim Gugur-Musim Dingin di China Awalnya, pemain hanya melakukan latihan rondo atau oper-operan melingkar sebelum pertandingan dimulai. Namun pada 1980-an, latihan itu berkembang menjadi permainan tersendiri. Menurut Lang, tujuan permainan bukan hanya menjaga bola tetap di udara, tetapi juga menciptakan harmoni dan keindahan gerakan antarpemain. “Saya selalu melihatnya sebagai pertunjukan khas pantai. Tidak ada yang merebut bola dari Anda. Saat bola datang kepada Anda, di situlah letak magianya,” ujarnya. Popularitas altinha kini meluas hingga ke berbagai negara. Bahkan beberapa pendukungnya, termasuk senator sekaligus legenda sepak bola Brasil Romario Faria, ingin menjadikannya cabang olahraga Olimpiade. “Kalau itu terjadi, saya akan mendaftar lagi untuk mewakili Brasil di Olimpiade,” kata Romario yang membawa Brasil juara Piala Dunia 1994. Saat ini komunitas altinha telah menggelar berbagai kejuaraan. Penilaian dilakukan berdasarkan tingkat kesulitan trik dan lamanya bola mampu dijaga tetap melayang di udara. Bagi sebagian orang, altinha bahkan telah menjadi sumber penghasilan.
Baca Juga: Ekonomi Thailand Terancam: Defisit Transaksi Berjalan di April 2026 Cetak Rekor Artur Marques, salah satu pemain yang kerap tampil di pantai Rio dan lapangan Engenhao, mengaku awalnya bercita-cita menjadi pesepak bola profesional. Namun setelah impian itu tidak terwujud, ia justru menemukan peluang melalui altinha. “Saya mulai membuat video di internet dan sadar bahwa di situlah tempat saya,” ujarnya. “Sekarang saya hidup dari altinha. Itu satu-satunya sumber penghasilan saya.”