KONTAN.CO.ID - Selama puluhan tahun Pakistan dikenal sebagai pendukung utama Taliban Afghanistan. Namun kini hubungan keduanya memburuk tajam, bahkan memicu serangan udara dan bentrokan lintas perbatasan yang disebut pejabat Pakistan sebagai “perang terbuka”. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?
Baca Juga: Meski ada Tarif Trump, PDB India di Kuartal IV 2025 Mampu Lampaui Ekspektasi Pasar Berikut penjelasannya, dirangkum dari laporan Reuters pada Jumat (27/2/2026). Dari Sekutu Strategis Menjadi Lawan Pada 1990-an, Islamabad mendukung lahirnya Taliban sebagai bagian dari strategi “strategic depth” menghadapi rivalitas dengan India. Ketika Taliban kembali berkuasa di Kabul pada 2021, mantan Perdana Menteri Imran Khan bahkan menyebut Afghanistan telah “mematahkan belenggu perbudakan”. Namun, hubungan tersebut tak berjalan sesuai harapan Pakistan.
Baca Juga: FIFA Bisa Cabut Hak Tuan Rumah Meksiko di Piala Dunia Usai Kerusuhan Kartel Jalisco Mengapa Kini Bersitegang? Islamabad menuduh Afghanistan menjadi tempat berlindung bagi pimpinan dan militan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), kelompok yang kerap dijuluki Taliban Pakistan. Menurut Pakistan: TTP menggunakan wilayah Afghanistan untuk merencanakan dan melancarkan serangan. Kelompok separatis Baloch juga memanfaatkan perbatasan yang berpori sebagai tempat aman. Sejak 2022, serangan militan di Pakistan meningkat setiap tahun. Di sisi lain, Taliban Afghanistan membantah tuduhan tersebut dan justru menuding Pakistan melindungi pejuang dari kelompok Islamic State, klaim yang juga dibantah Islamabad.
Baca Juga: Ekspor Hong Kong Tembus Rekor, Realisasi Impor Juga Naik Pemicu Bentrokan Terbaru Pakistan menyebut memiliki “bukti tak terbantahkan” bahwa militan yang berbasis di Afghanistan berada di balik serangkaian serangan bom bunuh diri dan serangan terhadap aparat keamanan sejak akhir 2024. Salah satu serangan di Bajaur pekan lalu menewaskan 11 personel keamanan dan dua warga sipil, dan diklaim dilakukan oleh anggota TTP berkewarganegaraan Afghanistan. Serangan udara dan darat Pakistan kemudian menargetkan pos militer, markas, dan depot amunisi Taliban di beberapa sektor perbatasan. Siapa Taliban Pakistan (TTP)? TTP dibentuk pada 2007 dari gabungan beberapa kelompok militan di barat laut Pakistan. Kelompok ini:
- Menyerang pasar, masjid, pangkalan militer, dan kantor polisi.
- Pernah menguasai wilayah di sepanjang perbatasan Afghanistan.
- Bertanggung jawab atas penembakan aktivis pendidikan Malala Yousafzai pada 2012, yang kemudian meraih Hadiah Nobel Perdamaian.
- TTP juga pernah bertempur bersama Taliban Afghanistan melawan pasukan pimpinan AS.
Baca Juga: Adu Kuat Netflix vs Paramount Rebut Aset Warner Bros Bagaimana Keseimbangan Militer? Secara kekuatan konvensional, Pakistan jauh lebih unggul. Menurut data International Institute for Strategic Studies (IISS) tahun 2025: Pakistan:
- Lebih dari 600.000 personel aktif
- Lebih dari 6.000 kendaraan tempur lapis baja
- Lebih dari 400 pesawat tempur
- Negara bersenjata nuklir
Taliban Afghanistan:
- Sekitar 172.000 personel
- Sedikitnya enam pesawat dan 23 helikopter
- Tidak memiliki jet tempur maupun angkatan udara efektif
Di atas kertas, terdapat kesenjangan kekuatan yang signifikan.
Baca Juga: Harga Minyak Menuju Penurunan Mingguan karena AS dan Iran Akan Melanjutkan Negosiasi Apa Selanjutnya? Analis memperkirakan Pakistan kemungkinan akan meningkatkan operasi militernya. Sementara itu, respons Taliban bisa berupa serangan gerilya lintas perbatasan atau penyerbuan pos keamanan. Meski Pakistan unggul secara militer, konflik berkepanjangan berisiko memperburuk stabilitas kawasan dan mengganggu perdagangan serta mobilitas di perbatasan yang selama ini sudah rapuh.