KONTAN.CO.ID - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memetakan kekayaan pangan lokal Nusantara sebagai sumber karbohidrat dan gizi alternatif yang tersebar dari wilayah barat hingga ujung timur Indonesia. Kepala Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN Dr. Dra. Dwinita Wikan Utami, M.Si. mengatakan, Indonesia memiliki keragaman tanaman pangan mulai dari serealia, kacang-kacangan, umbi-umbian hingga hortikultura yang potensinya belum dimanfaatkan optimal. Dalam diskusi Kompasiana bertajuk Perspektif: Melacak Jejak Pangan Nusantara, Dwinita menyebutkan berbagai sumber karbohidrat lokal seperti ubi jalar, jagung lokal, padi berpigmen berwarna hitam hingga merah, hanjeli, millet, sorghum, serta sagu. Menurutnya, sorgum dan sagu berpeluang menjadi alternatif pengganti terigu karena kandungan gizinya yang baik dan telah beradaptasi di Indonesia. BRIN juga mencatat keragaman sumber daya genetik umbi-umbian seperti talas, yam, ubi kayu, caladium, dan ubi jalar yang tersebar di berbagai daerah. Dwinita menegaskan, sumber daya genetik tersebut merupakan aset milik bangsa sehingga pengembangannya harus dilakukan melalui kolaborasi dengan para pemilik dan pengelola daerah. Tujuannya agar perekonomian tetap tumbuh.
Dari Sorgum ke Sukun, BRIN Ungkap Potensi Pangan Lokal Nusantara
KONTAN.CO.ID - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memetakan kekayaan pangan lokal Nusantara sebagai sumber karbohidrat dan gizi alternatif yang tersebar dari wilayah barat hingga ujung timur Indonesia. Kepala Riset Hortikultura dan Perkebunan BRIN Dr. Dra. Dwinita Wikan Utami, M.Si. mengatakan, Indonesia memiliki keragaman tanaman pangan mulai dari serealia, kacang-kacangan, umbi-umbian hingga hortikultura yang potensinya belum dimanfaatkan optimal. Dalam diskusi Kompasiana bertajuk Perspektif: Melacak Jejak Pangan Nusantara, Dwinita menyebutkan berbagai sumber karbohidrat lokal seperti ubi jalar, jagung lokal, padi berpigmen berwarna hitam hingga merah, hanjeli, millet, sorghum, serta sagu. Menurutnya, sorgum dan sagu berpeluang menjadi alternatif pengganti terigu karena kandungan gizinya yang baik dan telah beradaptasi di Indonesia. BRIN juga mencatat keragaman sumber daya genetik umbi-umbian seperti talas, yam, ubi kayu, caladium, dan ubi jalar yang tersebar di berbagai daerah. Dwinita menegaskan, sumber daya genetik tersebut merupakan aset milik bangsa sehingga pengembangannya harus dilakukan melalui kolaborasi dengan para pemilik dan pengelola daerah. Tujuannya agar perekonomian tetap tumbuh.