KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Strategi internalisasi armada operasional PT Darma Henwa Tbk (
DEWA) mulai menunjukkan hasil nyata. Efisiensi operasional yang semakin kuat mendorong pertumbuhan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) perusahaan melampaui pertumbuhan pendapatan pada kuartal III-2026. Di sisi lain, potensi kontrak baru di sektor batu bara dan nikel membuka peluang pertumbuhan kinerja yang lebih besar pada tahun depan. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan, dalam riset Jumat (23/10/2026) mencatat EBITDA DEWA pada kuartal III-2026 meningkat 27,5% secara kuartalan alias quarter-on-quarter (qoq) menjadi Rp 626 miliar. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan kenaikan pendapatan yang mencapai 14,4% qoq, mencerminkan dampak positif dari peningkatan efisiensi operasional. Kinerja tersebut didukung kontribusi penuh selama satu kuartal dari strategi internalisasi armada di tambang Bengalon, serta kondisi cuaca yang mendukung kegiatan operasional. DEWA juga telah mencapai 100% pergerakan material secara mandiri, sehingga ketergantungan pada pihak eksternal untuk aktivitas tersebut semakin berkurang.
Baca Juga: Saham Ritel Turun 17%, ACES Tawarkan Dividen 10,6%, AMRT Lebih Diunggulkan Efisiensi ini mendorong margin EBITDA meningkat menjadi 33% pada kuartal III-2026, dibandingkan 29,6% pada kuartal sebelumnya. Dengan capaian tersebut, EBITDA DEWA selama sembilan bulan pertama 2026 mencapai Rp 1,56 triliun, tumbuh 30,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan setara dengan 72% dari estimasi EBITDA setahun penuh BRI Danareksa Sekuritas. Erindra menilai hasil tersebut memperkuat tesis investasi terhadap strategi internalisasi armada DEWA. Kinerja operasional perusahaan dinilai masih berada di jalur yang sesuai dengan ekspektasi, meskipun tingginya biaya pendanaan masih membebani laba bersih. Dari sisi regulasi, manajemen DEWA juga memperkirakan implementasi Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Kepmen ESDM) Nomor 365 Tahun 2026 hanya akan menimbulkan gangguan operasional yang terbatas. Selain peningkatan efisiensi, prospek pertumbuhan DEWA ditopang oleh perkembangan proyek Sebuku yang telah memulai operasi pada Agustus 2026. Menurut BRI Danareksa Sekuritas, pelaksanaan proyek tersebut masih sesuai rencana. Manajemen menargetkan volume pemindahan material sebesar 8 juta hingga 10 juta bank cubic meter (bcm) pada 2026. Target tersebut secara umum sejalan dengan proyeksi BRI Danareksa Sekuritas sebesar 8 juta bcm. Untuk 2027, manajemen menargetkan volume pengupasan lapisan penutup (waste removal) di Sebuku mencapai 30 juta hingga 35 juta bcm. Peningkatan aktivitas ini diharapkan menjadi fondasi bagi pertumbuhan volume pekerjaan dan pendapatan DEWA pada tahun depan. Namun, peluang pertumbuhan DEWA tidak hanya berasal dari proyek yang sudah berjalan. Kontrak-kontrak baru berpotensi menjadi katalis tambahan bagi kinerja perusahaan, terutama dari pengembangan bisnis pertambangan batu bara di Sumatera Selatan serta pertambangan nikel di Halmahera Timur, Maluku Utara. BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan, apabila DEWA berhasil memperoleh sejumlah kontrak yang tengah dibidik, tambahan volume pergerakan material dapat mencapai 61,4 juta bcm per tahun.
Baca Juga: IHSG Menguat ke 5.401,5 di Pagi Ini (23/10), Top Gainers LQ45: AKRA, ADMR, ASII Dalam skenario optimistis tersebut, pendapatan DEWA pada 2027 berpotensi meningkat 25,6% atau bertambah Rp 3,02 triliun dibandingkan skenario dasar. EBITDA diperkirakan melonjak 32,8%, setara tambahan Rp 1,33 triliun, sedangkan laba bersih yang disesuaikan (adjusted net profit) berpotensi meningkat 54,5% atau bertambah Rp 896 miliar. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan mengamankan kontrak baru dapat memberikan dampak signifikan terhadap kinerja keuangan DEWA, melampaui pertumbuhan yang diharapkan dari proyek Sebuku dan peningkatan efisiensi operasional yang sudah berjalan. Perbaikan margin dan pertumbuhan volume yang ditopang proyek Sebuku, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham DEWA dengan target harga berbasis penjumlahan bagian usaha (sum-of-the-parts/SOTP) sebesar Rp 530 per saham. Dalam risetnya, Erindra menyebut DEWA diperdagangkan pada valuasi 6,4 kali estimasi laba 2027 (forward price-to-earnings ratio/P/E), dengan potensi kenaikan harga sekitar 105% terhadap target harga Rp530 per saham. Di luar proyeksi dasar, keberhasilan memperoleh kontrak pertambangan batu bara dan nikel berpotensi memberikan tambahan nilai sekitar Rp 40 per saham terhadap target harga tersebut. Sementara itu, Gayo Mineral Resources turut memberikan opsi potensi penciptaan nilai dalam jangka panjang. Meski demikian, terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati investor, antara lain keterlambatan pelaksanaan proyek, kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) yang lebih tinggi, peningkatan biaya pendanaan, serta risiko implementasi regulasi.
Hingga akhir 2026, pendapatan dan laba bersih masing-masing akan mencapai Rp 7,22 triliun dan Rp 676 miliar. Sementara di tahun 2027 pendapatan DEWA akan mencapai Rp 11,78 triliun dengan laba bersih Rp 1,64 triliun. Harga saham DEWA hingga pukul 09.38 WIB naik 0,78% di level Rp 260 per saham pada Jumat (23/10/2026).
Baca Juga: Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 18.070 Per Dolar AS Hari Ini (23/10), Asia Turun Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News