Data BCA: Belanja Masyarakat Melambat pada September 2026



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Belanja masyarakat menunjukkan tanda perlambatan pada kuartal III-2026. 

Data transaksi yang dipantau PT Bank Central Asia Tbk. (BCA) menunjukkan pertumbuhan belanja masyarakat hanya mencapai 1,4% pada September 2026.

Kepala Ekonom BCA David E. Sumual mengatakan, tren belanja masyarakat mengalami fluktuasi sepanjang tahun ini. Aktivitas belanja sempat mencapai puncaknya pada April, bertepatan dengan periode Ramadan dan Idulfitri, sebelum mengalami penurunan pada Mei dan kembali meningkat pada Juni.


Namun, memasuki kuartal III-2026, pertumbuhan belanja masyarakat cenderung melambat.

Baca Juga: Ekonom BCA Peringatkan Risiko Ekonomi Indonesia Masuk Zona Krisis

"Kalau kita lihat memang puncaknya terjadi pada masa Lebaran puasa, ini di bulan April, tetapi kita lihat memasuki Juni, memasuki Mei turun, Juni naik lagi, tapi memasuki kuartal III ini kecenderungannya melambat," ujar David dalam acara Business Outlook 2027.

Dia menambahkan, berdasarkan data transaksi BCA, pertumbuhan belanja masyarakat pada September hanya sebesar 1,4%.

BCA memantau aktivitas transaksi melalui basis data nasabah yang menggunakan kartu debit, kartu kredit, Q-RIS serta melakukan pembayaran melalui ATM. 

Menurut David, data tersebut memungkinkan perseroan memantau perkembangan belanja masyarakat berdasarkan wilayah maupun sektor usaha.

"Jadi trennya di September ini tumbuhnya hanya 1,4%," katanya.

Perlambatan belanja masyarakat tersebut menjadi salah satu indikator yang perlu dicermati di tengah tantangan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

David menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I-2026 relatif kuat, terutama ditopang oleh belanja pemerintah yang tumbuh dua digit. Namun, memasuki kuartal III, belanja pemerintah juga menunjukkan perlambatan.

Baca Juga: Indonesia Bakal Ekspor Beras Lagi, Mentan Ungkap Ada Permintaan Negara Lain

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai keberlanjutan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi pada semester II-2026, terutama apabila konsumsi masyarakat belum menunjukkan penguatan yang berarti.

"Jadi ini faktor belanja pemerintah yang kuat sekali yang mendorong pertumbuhan kita di semester I, pertanyaannya apakah ini sustain ke kuartal III dan kuartal IV," jelas David.

Selain perlambatan transaksi belanja, David juga menyoroti persoalan struktural daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah.

Dia mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan jumlah penduduk kelas menengah turun dari sekitar 59 juta orang pada 2019 menjadi 47 juta orang pada 2025.

Menurutnya, dampak pandemi terhadap kondisi ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih. Penyusutan jumlah kelas menengah tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam menilai kekuatan konsumsi domestik.

Baca Juga: Transaksi ISEF 2026 Tembus Rp 3,16 Triliun, BI Dorong Pembiayaan Syariah Produktif

Di sisi lain, tekanan inflasi juga menjadi tantangan bagi rumah tangga. David mencatat kenaikan harga pada sejumlah kelompok barang, termasuk furnitur dan pakaian

Sejumlah produk yang bergantung pada impor juga menghadapi tekanan harga yang cukup tinggi.

Meski demikian, dia mengingatkan bahwa kenaikan biaya di tingkat produsen belum sepenuhnya diteruskan kepada konsumen di seluruh sektor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News