Data beragam tak mampu menopang rupiah



JAKARTA. Pengaruh data ekonomi dari dalam negeri tak mampu menopang pergerakan rupiah. Mata uang garuda akhirnya kembali terpukul dollar AS.

Di pasar Spot, Senin (9/11) nilai tukar rupiah di hadapan dollar AS tergerus 0,59% dibanding akhir pekan lalu menjadi Rp 13.644. Sejalan, kurs tengah Bank Indonesia pun menunjukkan mata uang rupiah terkikis 1% menjadi Rp 13.687 per dollar AS.

Reny Eka Putri, Analis Pasar Uang PT Bank Mandiri Tbk mengatakan rupiah kembali melemah setelah akhir pekan lalu mencatat penguatan. Reny menduga pelemahan rupiah disebabkan oleh faktor eksternal. Sementara data ekonomi dalam negeri yang cukup beragam tak mampu menahan rupiah dari tekanan dollar AS.


Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2015 sebesar 4,73% memang lebih tinggi dari kuartal sebelumnya. Namun, angka ini di bawah proyeksi konsensus pasar sebesar 4,8%. "Dari data ini bisa dilihat secara positif dan negatif. Para pelaku pasar masih melihat pertumbuhan ekonomi dalam negeri belum maksimal," ujar Reny, Senin (9/11).

Selanjutnya, data indeks kepercayaan konsumen bulan Oktober naik menjadi 99,3 dari sebelumnya 97,5. Namun, data cadangan devisa turun menjadi US$ 100,7 miliar.

Data yang beragam ini tak mampu menopang rupiah ketika dollar AS sedang menguat. Penguatan mata uang negeri Paman Sam didorong oleh naiknya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed akhir tahun ini. Ini terjadi setelah data ekonomi AS yakni non farm payroll bulan Oktober naik cukup signifikan menjadi 271.000 dari bulan sebelumnya 137.000 serta proyeksi sebesar 181.000.

Lantaran dollar AS masih diburu sebagai safe haven, Reny menduga rupiah pada Selasa (10/11) akan melanjutkan pelemahan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto