Data Center dan EV Diproyeksi Jadi Motor Baru Permintaan Kawasan Industri pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menilai bisnis kawasan industri hingga April 2026 masih menunjukkan tren pertumbuhan positif meski berlangsung dalam situasi global yang penuh kehati-hatian.

Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Akhmad Ma’ruf Maulana mengatakan, penjualan lahan industri pada awal tahun masih mencatat pertumbuhan yang kuat dibanding periode sama tahun lalu.

“Penjualan lahan industri pada awal 2026 dinilai masih bertumbuh kuat dibanding periode yang sama tahun lalu, terutama di Kawasan Jabodetabek, Jawa barat, Jawa Tengah, Batam, hingga koridor industri Jawa Timur,” ungkap Akhmad, kepada Kontan.co.id, Senin (1/6/2026). 


Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Catat Progres Pembangunan Jalan IKN 19,35%, Lampaui Rencana Awal

HKI menilai struktur permintaan kawasan industri pada 2026 mulai mengalami perubahan signifikan dibanding beberapa tahun sebelumnya. Jika sebelumnya pertumbuhan lebih bergantung pada manufaktur padat karya, saat ini permintaan mulai bergeser menuju sektor dengan kebutuhan utilitas tinggi, teknologi besar serta nilai investasi yang lebih tinggi per hektare.

Salah satu sektor yang dinilai paling agresif mendorong permintaan adalah data center. Dalam dua tahun terakhir, kebutuhan lahan untuk pengembangan data center meningkat sangat cepat, khususnya di wilayah Bekasi, Cikarang, Karawang, hingga Batam. 

Pertumbuhan tersebut didorong ekspansi cloud computing, artificial intelligence (AI), hyperscaler global, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia serta meningkatnya kebutuhan penyimpanan data domestik.

Selain itu, sektor logistik dan warehouse modern juga masih menjadi salah satu penyerap lahan terbesar. HKI melihat tren warehouse juga berubah dari gudang konvensional menuju high-specification warehouse, automated logistics facility, cold storage hingga build-to-suit distribution center.

Di sisi lain, ekosistem kendaraan listrik atau EV masih menjadi tema strategis dalam pengembangan kawasan industri nasional. “Aktivitas investasi masih cukup kuat pada sektor baterai, precursor, cathode, nickel processing, smelter, hingga komponen kendaraan listrik,” ujarnya.

Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Catat Progres Pembangunan Jalan IKN 19,35%, Lampaui Rencana Awal

Meski sektor digital tumbuh pesat, manufaktur masih tetap menjadi tulang punggung kawasan industri Indonesia. Permintaan manufaktur sendiri masih berasal dari industri elektronik, food processing, chemical, packaging, precision engineering, medical products hingga industrial component manufacturing.

Di samping itu, relokasi industri global dan strategi diversifikasi supply chain juga masih menjadi faktor penting yang menopang permintaan kawasan industri Indonesia. 

Kini, perusahaan internasional banyak yang mulai mengurangi konsentrasi produksi di satu negara dan membangun basis produksi alternatif di Asia Tenggara. 

“Indonesia memperoleh keuntungan besar dari tren ini karena memiliki pasar domestik yang besar, sumber daya melimpah, tenaga kerja kompetitif, serta infrastruktur yang terus berkembang,” papar dia. 

Meskipun kondisi ekonomi global masih dibayangi ketidakpastian akibat suku bunga tinggi, perlambatan ekonomi beberapa negara besar, serta tensi geopolitik, minat investor asing terhadap Indonesia relatif tetap kuat. 

Menurut HKI, Indonesia saat ini mulai dipandang bukan hanya sebagai alternatif produksi murah, tetapi sebagai strategic manufacturing base dan pusat pertumbuhan industri jangka panjang di kawasan ASEAN. 

Ke depan, HKI memandang prospek bisnis kawasan industri hingga akhir 2026 masih cukup menjanjikan dengan optimisme yang terukur. “Saat ini, investor asing tidak lagi hanya melihat faktor biaya tenaga kerja, tetapi mulai mempertimbangkan stabilitas politik, ukuran pasar domestik, keamanan supply chain, akses bahan baku, ketersediaan energi, serta potensi pertumbuhan ekonomi digital. Dalam konteks tersebut, Indonesia memiliki posisi yang cukup kompetitif dibanding banyak negara emerging market lainnya,” pungkasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News