KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) berpeluang memasuki babak pertumbuhan baru melalui keterlibatannya dalam proyek Data Center CGK5 dan CGK7. Di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) dan kebutuhan infrastruktur digital, kontrak tersebut dinilai dapat menjadi katalis penting bagi perubahan skala bisnis perseroan. Analis pasar modal Menteng Kleb Institute, Fauzan Luthsa, mengatakan keterlibatan SEMA sebagai pemasok Power Train Unit (PTU) dan SKID membuka peluang bagi perusahaan untuk memperkuat posisinya dalam rantai pasok infrastruktur data center.
“Saya melihat kontrak CGK5 dan CGK7 ini bisa menjadi titik penting untuk perubahan skala bisnis perseroan. SEMA memang bukan penyedia keseluruhan sistem kelistrikan data center, tetapi masuk pada rantai yang cukup fundamental melalui penyediaan PTU dan SKID,” kata Fauzan, dalam keterangannya, Kamis (8/10/2026).
Baca Juga: Semacon (SEMA) Dapat Kontrak Panel Listrik Data Center, Saham Naik 24,85% Dengan asumsi kontrak tersebut dapat mendorong penjualan sekitar Rp 2 triliun dan SEMA mampu mempertahankan margin laba bersih 10%, laba bersih SEMA dipreiksi dapat mencapai sekitar Rp 200 miliar pada 2027. Fauzan juga menghitung, dengan asumsi Price to Earnings Ratio (PER) sebesar 10 kali, laba tersebut secara teoritis menghasilkan kapitalisasi pasar sekitar Rp 2 triliun. "Jika jumlah saham beredar sekitar 1,35 miliar lembar dan tidak berubah, skenario tersebut ekuivalen dengan valuasi sekitar Rp 1.481 per saham, atau mendekati Rp 1.500," ucap Fauzan. Tapi, Fauzan menegaskan perhitungan angka tersebut merupakan skenario valuasi berdasarkan asumsi, bukan target resmi perusahaan atau jaminan harga saham. Dalam keterbukaan informasi tanggal 30 September 2026 sebelumnya, SEMA menjelaskan bahwa perseroan memperoleh kontrak terkait proyek Data Center CGK5 dan CGK7 sebagai pemasok PTU dan SKID. SEMA mengategorikannya sebagai Kontrak Penting karena nilai yang sangat material, besarnya skala pekerjaan, dan relevansinya terhadap strategi pengembangan usaha. Bagi SEMA, kontrak ini bukan sekadar tambahan pekerjaan, melainkan kesempatan memperkuat rekam jejak, meningkatkan daya saing teknis dan membuka peluang proyek-proyek serupa di masa mendatang.
Baca Juga: Lanjutkan Penguatan, Cek Profil Saham SEMA, Lini Bisnis, dan Kinerja Terbarunya Perpaduan kontrak material yang telah diperoleh, prospek pertumbuhan infrastruktur AI, serta peluang peningkatan pendapatan menjadi dasar optimisme terhadap pengembangan bisnis SEMA. Meski demikian, realisasi laba dan valuasi tetap bergantung pada pelaksanaan kontrak, pengendalian biaya, kebutuhan modal kerja, serta kondisi pasar modal.
Pertumbuhan Infrastruktur Digital Sementara itu ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli, melihat pertumbuhan infrastruktur digital masih cukup kuat dalam tiga sampai lima tahun ke depan. Menurutnya, investasi data center berpotensi menciptakan efek berganda bagi industri domestik, termasuk pemasok infrastruktur kelistrikan. "Masih cukup optimis, 3-5 tahun ke depan untuk pertumbuhan infrastruktur, terutama karena demand AI. Kalau yang lebih dasar, peralatannya, misalnya kelistrikan, selama standarnya internasional harusnya di Indonesia pun seharusnya itu menciptakan multiplier effect," ucap Dipo. Sementara itu, Ketua Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB, Ian Yosef M. Edward, menilai pertumbuhan AI akan meningkatkan kebutuhan fasilitas data center berkapasitas tinggi.
Dengan peningkatan pemanfaatan AI yang akan signifikan beberapa tahun ke depan, maka diperlukan peningkatan kapasitas data center khusus dan data center dengan GPU as a Service, “Peluangnya sangat besar karena kebutuhan penggunaan GPU as a Service berbanding lurus dengan ketersediaan infrastruktur kelistrikan dan equipment pendukung yang disediakan perusahaan lokal dengan harga yang lebih kompetitif,” ujar Ian.
Baca Juga: Saham Semacom (SEMA) Anjlok 12%, Manajemen Beri Batasan Kontrak Data Center Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News