Data Mandiri Istitute: 72,3 Juta Pekerja Mengalami Mismatch Pendidikan dan Pekerjaan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Berdasarkan data Mandiri Institute nyatakan bahwa satu dari dua pekerja di Indonesia mengalami vertical mismatch atau fenomena ketidaksesuaian antara tingkat pendidikan atau keterampilan yang dimiliki pekerja dengan tingkat keterampilan yang dibutuhkan oleh pekerjaannya.

Pada tahun 2025, tingkat vertical mismatch di Indonesia tercatat sebesar 50% atau setara 72,3 juta pekerja, meski menurun dari 51% pada 2023. Tingginya tingkat vertical mismatch terutama bersumber dari pekerja undereducated/unqualified (kurang berpendidikan atau tidak berkualifikasi) sebanyak 32% dari total pekerja.

Sementara itu, sebanyak 18% masuk kategori overdeducated atau terlalu banyak pendidikan.


Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025 mencatat, jumlah penduduk bekerja di Indonesia mencapai 147,91 juta orang, naik 1,37 juta dibandingkan Agustus 2025. Artinya bila disandingkan dengan data Mandiri Institute, hampir separuh dari penduduk bekerja mengalami vertical mismatch.

Baca Juga: Purbaya: Sektor Swasta Jadi Kunci Ekspansi Ekonomi Jangka Panjang

“Pengangguran tak selalu disebabkan hanya karena minimnya lapangan kerja, namun bisa disebabkan juga oleh mismatch angkatan kerja,” mengutip postingan lapan Instagram resmi @oce_mandiri, Kamis (12/2/2026).

Secara wilayah, Maluku-Papua mencatat proporsi mismatch tertinggi 55% dengan dominasi undereducated workers (pekerja yang kurang berpendidikan), sementara Sumatra dan Jawa memiliki tingkat kesesuaian pendidikan dan pekerjaan yang lebih tinggi masing-masing 49% dan 50%.

Kemudian, di Kalimantan mismatchnya mencapai 51%, Sulawesi 52%, serta Bali dan Nusa Tenggara 64%.

Adapun mismatch tertinggi ada di sektor pengadaan air dan pertanian. Mismatch di sektor pengadaan air didorong oleh tingginya pekerja yang berpendidikan berlebihan, sedangkan di sektor pertanian disebabkan dominasi pekerja kurang pendidikan Di sisi lain, sektor administrasi pemerintahan dan jasa keuangan cenderung memiliki proporsi pekerja yang berpendidikan tinggi yang lebih besar.

Sementara itu, latarbelakang pendidikan yang sesuai tertinggi ada pada profesi jasa pendidikan, perdagangan, akomodasi makanan dan minuman.

Lebih lanjut, Mandiri Institute melihat, fenomena mismatch ini menunjukkan bahwa kebijakan ketenagakerjaan perlu melampaui penciptaan kerja secara kuantitas.

Melihat kondisi tersebut, Tim Ekonomi Mandiri menyarankan, arah kebijakan ketenagakerjaan perlu difokuskan kepada tiga hal utama. Pertama, memperkuat link and match pendidikan dan industri.

Kedua, memperluas cakupan program upskilling/reskilling yang spesifik kebutuhan sektor. Ketiga, menajamkan intervensi pada wilayah dan sektor dengan mismatch tertinggi.

Baca Juga: Data BI: Sektor Halal Value Chain Tumbuh 6,5% Pada 2025

Selanjutnya: Citilink Gandeng AQUA Luncurkan Desain Livery Khusus

Menarik Dibaca: Rumah Terlihat Murahan karena Tanaman Palsu? Ini Kata Ahli Desainer Interior

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News