Data manufaktur China jadi penggerak harga tembaga



JAKARTA. Harga tembaga masih berpotensi menguat dalam jangka panjang. Hal ini didukung optimisme keberhasilan stiumulus ekonomi yang digelontorkan oleh berbagai negara.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka, Ibrahim optimistis, permintaan tembaga akan terus mengalami kenaikan seiring perbaikan ekonomi di beberapa negara. Mulai awal Maret 2016, Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank Sentral Jepang (BOJ) sudah bersiap untuk memberikan stimulus ekonomi tambahan. 

Hal tersebut dapat mengangkat harga tembaga, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, jika upaya stimulus ekonomi menunjukkan hasil. "Banyak analis yang memprediksi tahun 2016 ekonomi global akan lebih baik dari tahun sebelumnya," imbuh Ibrahim.


Prediksi Ibrahim, tembaga akhir tahun ini akan mencapai US$ 6.000 per metrik ton. Namun, volatilitas harga masih akan terjadi apalagi jika The Fed kembali membahas kenaikan suku bunga sehingga mengangkat nilai tukar dollar AS.

Untuk pekan depan, data manufaktur China bulan Februari 2016 akan menjadi sentimen utama penggerak harga tembaga. Sebuah laporan sektor swasta pekan ini menunjukkan jika sentimen konsumen di China melemah pada bulan Februari.

Data manufaktur dan jasa, juga memperlihatkan angka penurunan. Secara teknikal, Ibrahim menduga, tembaga masih akan menguat dalam sepekan ke depan. Namun, penguatan harganya terbatas jika data manufaktur negeri panda mengecewakan.

Mengutip Bloomberg, Jumat (26/2) harga tembaga kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange menguat 0,7% ke level US$ 4.635 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya dan menanjak 0,3% dalam sepekan terakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News