KONTAN.CO.ID -Â WASHINGTON. Pelaku pasar global akan mencermati data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) pekan ini karena indikator tersebut berpotensi menentukan arah ekonomi dunia di tengah meningkatnya ketidakpastian akibat perang Iran yang mendorong kenaikan harga energi. Meski konflik geopolitik mulai menekan prospek pertumbuhan global, pasar tenaga kerja AS sejauh ini masih menunjukkan ketahanan. Melansir
Bloomberg (3/5), laporan payroll April yang akan dirilis Jumat diperkirakan mencatat tambahan 62.000 pekerjaan baru, sementara tingkat pengangguran tetap stabil dan pertumbuhan upah menguat. Jika proyeksi itu terealisasi, ekonomi AS masih mampu bertahan di tengah tekanan biaya energi yang meningkat. Kondisi tersebut penting karena kekuatan ekonomi AS dapat menjadi penyangga utama pertumbuhan global ketika banyak kawasan lain masih rapuh.
Namun, data tenaga kerja yang terlalu kuat juga bisa menimbulkan konsekuensi lain. Federal Reserve (The Fed) kemungkinan menunda penurunan suku bunga lebih lama. Artinya, pasar global menghadapi dua tekanan sekaligus, yakni harga minyak tinggi dan suku bunga AS yang berpotensi bertahan tinggi dalam waktu lebih panjang. Perang Iran telah mendorong kenaikan harga minyak mentah dan memicu kekhawatiran gelombang inflasi kedua. Kenaikan biaya energi dapat menekan konsumsi rumah tangga, mempersempit margin industri, dan menghambat pemulihan manufaktur global yang belum solid.
Baca Juga: AS Tarik 5.000 Pasukan dari Jerman, Ini Peta Kekuatan Militernya di Eropa Inflasi tinggi Di AS, pejabat The Fed tampak lebih khawatir terhadap dampak inflasi energi dibanding ancaman perlambatan ekonomi. Presiden Federal Reserve Chicago, Austan Goolsbee menilai, data inflasi terbaru menjadi kabar kurang baik bagi bank sentral AS. Menurut dia, The Fed belum memiliki cukup keyakinan bahwa inflasi akan kembali ke target 2%, sehingga ruang untuk menurunkan suku bunga masih terbatas. Dari data indeks harga
Personal Consumption Expenditures (PCE), indikator inflasi acuan The Fed, yang naik 3,5% secara tahunan pada Maret. Sikap itu menunjukkan bank sentral AS masih cenderung
hawkish meski pertumbuhan mulai melambat. Jika The Fed menunda pelonggaran moneter, arus modal global berpotensi terus mengalir ke aset dolar AS. Dampaknya, mata uang negara berkembang bisa tertekan dan ruang penurunan suku bunga di emerging markets semakin terbatas. Di Asia, sejumlah negara akan merilis data penting pekan ini, mulai dari inflasi Korea Selatan, Indonesia, Malaysia, hingga keputusan suku bunga Australia. Di Eropa, bank sentral mulai menahan suku bunga, tetapi ekonomi kawasan euro belum sepenuhnya pulih. Data manufaktur Prancis, Jerman, dan Spanyol pekan ini akan menunjukkan apakah sektor industri mampu bertahan di tengah mahalnya energi dan lemahnya permintaan eksternal. Jerman sebagai motor industri Eropa masih menghadapi tekanan berat. Jika pesanan pabrik dan produksi industri kembali melemah, kawasan euro berisiko mengalami stagnasi lagi. Swiss dan Turki menghadapi situasi berbeda. Swiss diperkirakan mencatat inflasi tertinggi sejak 2024, sedangkan Turki masih bergulat dengan inflasi di atas 30%.
Baca Juga: Setelah China, Kini Vietnam: AS Ungkap Negara Paling Bermasalah soal HAKI Pelonggaran moneter Berbeda dengan negara maju, beberapa negara Amerika Latin mulai memasuki fase pelonggaran moneter. Meksiko dan Brasil berpeluang melanjutkan penurunan suku bunga karena inflasi mulai terkendali. Namun, ruang pelonggaran tetap terbatas. Jika dolar AS menguat karena The Fed menahan bunga tinggi lebih lama, tekanan nilai tukar bisa memaksa bank sentral regional bersikap lebih hati-hati. Secara keseluruhan, data payroll AS akhir pekan ini berpotensi menggerakkan sentimen global jangka pendek. Jika data terlalu kuat, pasar akan mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga The Fed. Jika data terlalu lemah, kekhawatiran resesi global justru meningkat.