Daya Beli Belum Bangkit, Ekonomi Kuartal II-2026 Diprediksi Melambat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 diperkirakan melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. 

Perlambatan tersebut dipicu oleh melemahnya hampir seluruh komponen utama perekonomian, mulai dari konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah, investasi hingga ekspor.

Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman memperkirakan, ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 hanya akan tumbuh sekitar 5,3% secara tahunan, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 5,61% pada kuartal I-2026.


Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II Diprediksi Melambat, Investasi Bisa Jadi Penyelamat

"Kita perkirakan kuartal II secara tahunan hanya tumbuh 5,3%, melambat dibandingkan 5,61%," ujar Juniman kepada Kontan, Senin (3/8/2026).

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga diperkirakan hanya tumbuh 5,2%, turun dari 5,5% pada kuartal sebelumnya.

Belanja pemerintah juga diproyeksikan mengalami perlambatan signifikan menjadi 4,9% dari 21% pada kuartal I-2026. Sementara itu, investasi diperkirakan tumbuh 5,1%, lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya.

Di sisi eksternal, kinerja ekspor juga diperkirakan melemah seiring perlambatan ekonomi global. Pertumbuhan ekspor diproyeksikan hanya mencapai 0,2%, turun dari 0,90% pada kuartal I-2026.

Tak hanya dari sisi pengeluaran, perlambatan juga terlihat pada sejumlah sektor usaha.

Sektor pertanian diperkirakan hanya tumbuh 3,95%, melambat dari 4,97% pada kuartal sebelumnya. Sektor manufaktur juga diproyeksikan turun menjadi 4,97% dari 5,04%.

Begitu pula sektor informasi dan komunikasi yang diperkirakan turun dari 7,14% menjadi sekitar 7%. "Itu sektor-sektor yang ikut melambat dan pada akhirnya itulah membuat ekonomi kita melambat di kuartal II-2026," katanya.

Juniman menilai tekanan terhadap daya beli masyarakat masih akan berlanjut pada semester II-2026. Menurutnya, kenaikan biaya hidup (living cost) masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan masyarakat.

Ia juga memperkirakan Bank Indonesia masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan satu kali lagi pada semester II sehingga BI Rate dapat mencapai 6%. Di sisi lain, inflasi diperkirakan tetap bertahan di kisaran 3% hingga akhir tahun.

Baca Juga: Indonesia Masih Ekspor Minyak Mentah, Thailand Jadi Tujuan Utama

"Dalam saat bersamaan pertumbuhan income daripada masyarakat itu tidak sebesar daripada kenaikan living cost. Itu yang membuat daya beli kelihatannya akan terus tergerus di semester kedua," ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, Juniman memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada semester II hanya sekitar 5,2%, lebih rendah dibandingkan proyeksi pertumbuhan semester I-2026 sebesar 5,45%.

Secara keseluruhan, Maybank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 berada di kisaran 5,3%.

Menurut Juniman, paket stimulus ekonomi yang digulirkan pemerintah pada semester II diperkirakan belum cukup kuat untuk mengangkat daya beli masyarakat.

Ia menilai besaran stimulus kali ini lebih kecil dibandingkan yang diberikan pada semester I karena ruang fiskal pemerintah semakin terbatas di tengah besarnya kebutuhan pembiayaan berbagai program prioritas.

"Stimulus yang dilakukan paling tidak membuat daya beli tidak anjlok sekali. Itu hanya untuk menahan daya beli, tapi untuk meningkatkan kelihatannya agak sulit," katanya.

Juniman menambahkan, kelompok masyarakat kelas menengah menjadi pihak yang paling terdampak. Menurutnya, kelompok ini tidak banyak menikmati manfaat stimulus, sementara tetap menghadapi kenaikan biaya hidup.

Baca Juga: Luas Panen Padi Juni 2026 Naik 6,93%, Produksi Beras Tembus 2,47 Juta Ton

Di sisi lain, masyarakat berpenghasilan rendah masih mendapatkan berbagai bantuan sosial dari pemerintah.

Sedangkan kelompok berpendapatan tinggi cenderung menunda konsumsi karena masih tingginya ketidakpastian ekonomi global maupun domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News