Daya Beli Belum Pulih, Pelaku Pusat Belanja Bidik Transaksi Rp 38 Triliun di ISF 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku usaha pusat belanja dan ritel kembali meluncurkan program belanja besar-besaran untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Kali ini, Indonesia Shopping Festival (ISF) kembali diadakan selama 7-23 Agustus 2026 di sebanyak 407 pusat perbelanjaan Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan, sebagai penyelenggara, APPBI melalui ISF 2026 berupaya mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, terutama di sektor ritel.

APPBI juga memasang target yang ambisius, yakni nilai transaksi mencapai Rp 38 triliun, meningkat dibanding capaian tahun lalu yang sebesar Rp 25 triliun.


Baca Juga: RKAB PT Timah 2026 di Belitung Habis, Perpres Disiapkan Untuk Serap Timah Rakyat

Optimisme pengelola pusat belanja pada gelaran ini ditopang oleh beragam program yang dihadirkan, seperti promo spesial dan diskon hingga 80% + 1 Grand Prize dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) RI ke-81.

Tak hanya itu, APPBI turut mengadakan program undian belanja Big Shop Big Win. Di mana, pengunjung dapat melakukan registrasi di pusat perbelanjaan masing-masing dengan menunjukkan struk belanja pada hari yang sama, dengan nilai transaksi minimal Rp 100.000.

Setelah itu, peserta dapat menerima nomor undian dan berkesempatan meraup hadiah menarik, mulai dari mobil BYD Atto 1 hingga jutaan voucher belanja MAP.

"Gelaran ISF tahun ini diperpanjang dari 11 hari pada tahun lalu, menjadi 17 hari tahun ini. Festival ini diharapkan dapat menjadi pendorong peningkatan konsumsi domestik," jelas Alphonzus dalam pembukaan ISF 2026 di K Mall Kemayoran, Jakarta, Jumat (7/8/2026).

Adapun APPBI menyelenggarakan ISF 2026 bersama Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) dan Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo). Alphonzus bilang, pusat belanja tak akan berjalan tanpa adanya peritel.

Melalui gelaran ini, APPBI juga disebut berupaya memperkuat peran pusat belanja sebagai pendukung usaha lokal, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Apalagi, kata Alphonzus masyarakat kelas menengah ke bawah mendominasi pusat perbelanjaan dengan porsi 95%, sedangkan konsumen kelas atas hanya 5%.

Baca Juga: Konsumsi Listrik SPKLU Lampaui 2025, PLN Percepat Perluasan Infrastruktur EV

"Kehadiran UMKM dalam ISF 2026, secara tidak langsung turut mendorong daya beli konsumen pusat belanja yang mayoritas kelas menengah ke bawah," ujarnya.

Dari sisi peritel, Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah menyebutkan, capaian penjualan yang dirasakan peritel dari program ini diproyeksi meningkat 10%.

Meskipun memang, peritel umumnya tidak mendiskon seluruh barang dari satu toko. Promo, lanjutnya, hanya diberikan pada beberapa produk di sekor fesyen, ataupun melalui paket-paket murah di sektor food & beverages (F&B), beauty & wellness, dan lainnya.

"Ya, biasa kalau ada diskon, (penjualan) naik 10%–20%. Cuma kadang-kadang yang mengganggu (peningkatan) itu item yang enggak didiskon. Jadi total naik ya paling 10% maksimal," jelas Budihardjo saat ditemui Kontan, dalam kesempatan yang sama.

Menurut dia, daya beli masyarakat masih dipengaruhi sejumlah faktor seperti penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) serta kenaikan harga minyak global.

Karena itu, Budihardjo mengimbau masyarakat tetap melakukan pembelian dan tidak terlalu menahan konsumsi akibat kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi ke depan.

"Kalau banyak orang yang terlalu banyak menabung, menahan beli karena khawatir, itu akan mengganggu sektor konsumsi," tuturnya.

Hal ini sejalan dengan dukungan pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) terhadap program belanja wisata seperti ISF 2026 untuk mendorong kontribusi sektor perdagangan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pasalnya, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Iqbal Shoffan Shofwan menyebut, sektor ritel memiliki pengaruh signifikan terhadap konsumsi domestik.

Baca Juga: Freeport Ajukan Perpanjangan IUPK Grasberg, Ini Alasannya

"Lebih dari 50% struktur PDB kita itu terbentuk dari konsumsi domestik. Berbicara konsumsi domestik itu saja sangat erat dengan sektor ritel," kata Iqbal kepada Kontan, Jumat (7/8/2026).

Meskipun memang, Iqbal tak memungkiri adanya penurunan pertumbuhan PDB kuartal II-2026 menjadi 5,29% secara tahunan (year on year/yoy), turun dari 5,61% pada kuartal pertama.

Namun, ia optimistis program belanja jumbo dari pelaku usaha mampu mengerek pertumbuhan PDB ke depan. Belum lagi, kata Iqbal, pemerintah juga masih bakal menggelontorkan sejumlah stimulus fiskal hingga akhir tahun, seperti stimulus transportasi.

"Tidak begitu signifikan memang, tapi ada penurunan (pertumbuhan PDB). Maka itu kita berharap, bahkan kita sudah menjalankan kegiatan-kegiatan pemberian diskon seperti ini yang akan berkontribusi langsung kepada konsumsi rumah tangga kuartal III," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News