Daya Beli Belum Pulih, Tekanan Biaya Hidup Kelas Menengah Kian Menghimpit



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Daya beli masyarakat masih belum menunjukkan pemulihan yang solid. Di tengah tekanan biaya hidup yang kian menghimpit kelas menengah, kinerja penjualan eceran masih terkontraksi, mengindikasikan konsumsi rumah tangga belum kembali pulih sepenuhnya.

Berdasarkan Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia (BI), Indeks Penjualan Riil (IPR) Mei 2026 diperkirakan sebesar 225,0.

Secara tahunan, penjualan eceran masih terkontraksi 3,2% (year on year/yoy), meski lebih baik dibandingkan kontraksi 3,7% (yoy) pada April 2026.


Secara bulanan, penjualan eceran juga masih mencatat kontraksi 0,9% (month to month/mtm), namun jauh membaik dibandingkan penurunan 11,6% (mtm) pada April 2026.

Baca Juga: Alarm Pelemahan Daya Beli Kelas Menengah, Penjualan Sektor Ritel Kian Tertekan

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai tekanan terhadap daya beli masyarakat masih akan berlanjut seiring adanya penyesuaian harga energi, termasuk kenaikan harga Pertamax.

"Daya beli diperkirakan akan mengalami tekanan seiring adanya kebijakan penyesuaian harga energi seperti kenaikan harga Pertamax, yang berpotensi meningkatkan pengeluaran masyarakat kelas menengah," ujar David kepada Kontan, Kamis (11/6/2026).

Menurut David, ruang pelaku usaha untuk menyerap kenaikan biaya juga semakin terbatas. Akibatnya, sebagian kenaikan biaya mulai diteruskan kepada konsumen dalam bentuk harga jual yang lebih tinggi.

Selain itu, volatilitas nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak dunia masih menjadi faktor utama yang berpotensi menekan konsumsi rumah tangga.

"Faktor utama yang mempengaruhi adalah volatilitas nilai tukar, terutama terkait imported inflation dan harga minyak," katanya.

Tekanan tersebut muncul di tengah masih lemahnya kinerja sejumlah kelompok barang dalam survei BI. Pada Mei 2026, kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau tercatat masih terkontraksi 4,0% (yoy), sementara Kelompok Bahan Bakar Kendaraan Bermotor turun 2,2% (yoy). Adapun Kelompok Peralatan Informasi dan Komunikasi mengalami kontraksi terdalam sebesar 17,5% (yoy).

Baca Juga: Bank Dunia Peringatkan Nasib Kelas Menengah, Ini Kata Ekonom

Meski demikian, David melihat masih ada sejumlah faktor yang dapat menjadi bantalan bagi konsumsi masyarakat dalam beberapa bulan ke depan.

Menurutnya, belanja musiman terkait tahun ajaran baru dan libur sekolah berpotensi menopang konsumsi rumah tangga. Selain itu, pencairan bantuan sosial (bansos) juga dapat membantu menjaga daya beli kelompok masyarakat berpendapatan rendah.

"Pertumbuhan ekonomi diperkirakan melandai seiring normalisasi dari efek musiman Ramadan dan Idulfitri. Namun momentum tahun ajaran baru dan pencairan bansos mungkin dapat menjadi bantalan bagi konsumsi masyarakat," jelas David.

Sejalan dengan itu, Bank Indonesia juga memperkirakan ekspektasi penjualan eceran dalam tiga hingga enam bulan mendatang akan meningkat.

Baca Juga: BI Rate Naik Jadi 5,5%, Ekonom: Beban Kelas Menengah Kian Berat

Hal ini tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Juli 2026 yang mencapai 138,3 dan Oktober 2026 sebesar 149,4, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

Bank Indonesia mencatat peningkatan optimisme tersebut didorong oleh momentum tahun ajaran baru pada Juli dan persiapan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal menjelang akhir tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News