Daya Beli Masyarakat Diproyeksi Melambat pada Semester II 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Daya beli masyarakat pada semester II 2026 diperkirakan masih terjaga, meski berpotensi melambat dibandingkan semester I 2026. Kondisi tersebut tercermin dari pola penjualan eceran yang diproyeksikan mengalami fluktuasi sepanjang semester II 2026.

Kinerja penjualan eceran tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Juli 2026 yang diperkirakan tumbuh sebesar 0,9%  year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sehingga mencapai level 224,4. Meski demikian, secara bulanan, penjualan eceran pada Juli 2026 diprakirakan menurun sebesar 0,3% month to month (mtm).

Head of Macroeconomic & Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rahman mengatakan, pelemahan penjualan eceran secara bulanan pada periode tertentu tidak semata-mata menunjukkan penurunan daya beli masyarakat.


Baca Juga: Tumbuh 25%, Penerimaan Pajak DJP Jatim II Capai Rp 16,08 Triliun Per Juli 2026

“Hal ini disebabkan oleh terkumpulnya mayoritas hari libur nasional di semester I 2026 sehingga mobilitas cenderung tinggi pada periode itu,” tutur Faisal kepada Kontan, Selasa (11/8/2026).

Menurutnya, tingginya mobilitas masyarakat pada paruh pertama 2026 turut mendorong aktivitas konsumsi. Setelah momentum tersebut berakhir, penjualan eceran pun berpotensi mengalami normalisasi.

Namun, tekanan terhadap daya beli pada paruh kedua tahun ini bukan hanya berasal dari faktor musiman. Faisal melihat terdapat sejumlah risiko yang dapat menekan konsumsi masyarakat, terutama dari sisi harga.

Ia mengatakan, tekanan inflasi berpotensi meningkat akibat kenaikan harga energi nonsubsidi serta dampak El Nino terhadap harga pangan. Kondisi tersebut dapat mengurangi ruang belanja rumah tangga apabila tidak diimbangi dengan peningkatan pendapatan.

"Selain karena tidak ada momentum, tekanan juga cenderung naik ke depannya. Oleh sebab itu memang dibutuhkan stimulus dari pemerintah untuk tetap menjaga momentum dan daya beli masyarakat tersebut," ujarnya.

Meski demikian, menurutnya pemerintah telah menyiapkan berbagai paket stimulus untuk menjaga permintaan domestik. Menurut Faisal, kebijakan tersebut masih dapat menopang konsumsi rumah tangga pada paruh kedua tahun ini.

Baca Juga: LSP Dorong Reshuffle Menteri yang Dinilai Bebani Ekonomi Pemerintahan Prabowo

Dengan dukungan stimulus tersebut, Faisal memperkirakan konsumsi masyarakat masih mampu tumbuh di kisaran 5% pada semester II 2026, meski lajunya berpotensi lebih rendah dibandingkan semester pertama.

Di sisi lain, Faisal melihat pola konsumsi masyarakat saat ini memang sangat bergantung pada momentum. Ketika terdapat libur panjang, pemberian insentif atau stimulus, mobilitas dan konsumsi masyarakat dapat meningkat. Namun, ketika momentum tersebut berakhir, aktivitas konsumsi cenderung kembali mengalami normalisasi.

Faisal menilai strategi stimulus pemerintah dapat efektif dalam menjaga permintaan dalam jangka pendek. Namun, kebijakan tersebut tidak cukup apabila ingin menjaga daya beli secara berkelanjutan.

"Dalam jangka pendek, strategi ini dapat berhasil. Namun dalam jangka panjang akan bergantung juga pada kondisi pasar tenaga kerja dan keberlangsungan transformasi struktural," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News