Daya Beli Masyarakat Lemah, Kinerja Emiten Properti Lesu Sepanjang Semester I 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja emiten properti sepanajng paruh pertama tahun 2026 tampak lesu di tengah gejolak makroekonomi. Hal ini tampak dari masih belum meratanya kinerja terbaru mereka.

Tengok saja, PT Ciputra Development Tbk (CTRA) mencatatkan penjualan dan pendapatan usaha tercatat Rp 5,19 triliun di akhir Juni 2026, turun 11,69% secara tahunan alias year on year (YoY) dari Rp 5,88 triliun. CTRA membukukan laba bersih Rp 1,09 triliun di akhir semester I 2026, turun 11,19% YoY.

PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) membukukan pendapatan neto sebesar Rp 4,25 triliun per 30 Juni 2026, turun 7,18% YoY. Laba bersih SMRA sebesar Rp 332,38 miliar per semester I 2026, turun 33,98% YoY.


Laba bersih PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) tercatat sebesar Rp 1 triliun per kuartal II 2026, turun 11,42% dari Rp1,13 triliun. Penurunan laba bersih terjadi kala total pendapatan PWON relatif stabil sebesar Rp 3,37 triliun apabila dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Didukung Fundamental Kuat, Prospek Dolar Masih Terjaga

Direktur dan Sekretaris Perusahaan PWON, Minarto Basuki mengatakan, Kinerja PWON didukung pendapatan recurring income yang tumbuh sebesar 7% secara tahunan alias year on year (YoY) menjadi Rp 2,89 triliun dibandingkan Rp 2,69 triliun pada periode yang sama tahun lalu. 

“Pertumbuhan ini berhasil mengimbangi moderasi pendapatan development yang disebabkan oleh perbedaan waktu pengakuan pendapatan dari serah terima unit,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (31/7/2026).

Lalu, pendapatan usaha PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) tercatat sebesar Rp 4,75 triliun, menyusut 25,64% YoY. Laba bersih juga terpangkas dari Rp 1,28 triliun menjadi Rp 603,89 miliar per kuartal II 2026.

Di sisi lain, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) mengantongi laba bersih sebesar Rp 1,68 triliun per kuartal II 2026, melonjak 483,78% YoY dari Rp 285,86 miliar. Kenaikan laba bersih bermula dari raihan pendapatan neto yang tercatat Rp 2,92 triliun per kuartal II 2026. Ini naik 77,61% dari Rp 1,64 trliun pada periode sama tahun lalu.

Tim Research Analyst Magenta Kapital Sekuritas Indonesia mengatakan, kinerja emiten properti pada semester I 2026 masih berada dalam fase pemulihan, namun pertumbuhannya relatif terbatas dan belum merata. 

Hal tersebut tercermin dari kinerja mayoritas developer residensial yang masih membukukan pertumbuhan secara bertahap, seiring permintaan properti yang belum pulih sepenuhnya. 

“Suku bunga yang masih relatif tinggi serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih masih menjadi tantangan utama bagi sektor properti, terutama karena mayoritas pembelian rumah primer masih menggunakan fasilitas KPR,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (4/8/2026).

Baca Juga: Laba Bersih Abadi Lestari (RLCO) Naik 13,39% Jadi Rp 20,36 Miliar per Semester I 2026

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie mengatakan, beberapa emiten properti besar mayoritas mengalami penurunan dari sisi pendapatan dan laba bersih. 

“Perlambatannya disebabkan oleh realisasi marketing sales yang belum optimal, kondisi makroekonomi yang tidak mendukung, serta pelemahan daya beli masyarakat,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (5/8/2026).

Analis Maybank Sekuritas Indonesia Kevin Halim menuturkan, kinerja emiten properti pada semester I 2026 sebenarnya cukup solid, mengingat kondisi makroekonomi yang tidak stabil. 

Permintaan untuk aset properti secara keseluruhan memang mengalami pelemahan, khususnya di regional market seperti Surabaya dan Sumatra. Namun, penjualan di Jabodetabek tetap kuat, terutama di flagship city, seperti BSD City dan Summarecon Serpong. 

“Kami melihat permintaan masih cukup kuat untuk proyek-proyek selektif yang terletak di lokasi strategis,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (5/8/2026).

Kondisi penuh tantangan itu masih akan berlangsung hingga akhir tahun ini.

Tim Research Analyst Magenta Kapital Sekuritas Indonesia memperkirakan, pemulihan sektor properti masih berlanjut pada Semester II 2026, meski lajunya diperkirakan tetap bertahap. 

Sentimen positif masih ditopang oleh berlanjutnya insentif PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), tingginya investasi di kawasan industri, serta potensi perbaikan daya beli masyarakat apabila kondisi ekonomi tetap terjaga. 

“Dengan kondisi tersebut, developer kawasan industri masih berpeluang menjadi subsektor dengan kinerja paling resilien hingga akhir tahun,” katanya.

 
PANI Chart by TradingView

Ke depan, investor perlu mencermati arah kebijakan suku bunga dan pemulihan daya beli masyarakat karena kedua faktor tersebut akan sangat menentukan kecepatan pemulihan permintaan properti. Khususnya, pada segmen residensial yang masih didominasi pembelian melalui fasilitas KPR.

Dari sisi pasar saham, sektor properti masih menarik untuk dicermati. Meskipun indeks sektor properti telah menguat sekitar 11,18% sepanjang Juli 2026, penguatannya masih tertinggal dibanding sektor energi maupun basic materials. 

“Hal ini menunjukkan ruang kenaikan masih terbuka, didukung valuasi yang masih relatif menarik,” tuturnya. 

Tim Research Analyst Magenta Kapital Sekuritas Indonesia pun menyarankan investor mencermati saham CTRA dengan target harga pada kisaran Rp 620 – Rp 650 per saham.

Adrian berpandangan, sektor properti pada semester II secara umum berpotensi membaik secara moderat dengan catatan kondisi geopolitik global dan makroekonomi mulai membaik. 

Secara khusus, prospek PANI di semester II masih akan berlanjut positif secara tahunan. Namun, secara kuartalan pertumbuhannya akan lebih moderat. 

Sentimen positif dari PANI berupa, ramp up utilisasi dari NICE serta perpanjangan insentif PPN DTP sampai tahun 2027. 

“Namun perlu diperhatikan juga kondisi makroekonomi yang dapat mempengaruhi permintaan pada sektor properti,” ungkapnya.

Adrian pun merekomendasikan beli untuk PANI dengan target harga Rp 8.500 per saham.

Kevin melihat, kinerja sektor properti di semester II cukup menantang dikarenakan tingkat suku bunga yang tinggi dan permintaan properti yang masih cukup lemah. 

Namun, permintaan properti di Jabodetabek masih tergolong cukup sehat, terutama di flagship township seperti Summarecon Serpong dan BSD City. 

Baca Juga: Gunung Raja Paksi (GGRP) Raup Laba Bersih US$ 1,84 Juta pada Semester I-2026

Kinerja PWON dinilai akan jadi jawara di tahun 2026 dikarenakan proporsi recurring income yang tinggi. Sebab, aset recurring income cenderung lebih resilien dibandingkan penjualan properti pada kondisi saat ini.

Kevin pun merekomendasikan beli untuk BSDE, CTRA, PWON, dan SMRA dengan target harga masing-masing Rp 1.050 per saham, Rp 850 per saham, Rp 430 per saham, dan Rp 470 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News