Daya Beli Masyarakat Masih Tertekan, Pemulihan Konsumsi Rumah Tangga Belum Merata



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Sejumlah data indikator menunjukkan konsumsi dan daya beli masyarakat masih menghadapi tekanan pada kuartal III-2026 di tengah melemahnya persepsi terhadap pendapatan dan ketersediaan lapangan kerja.

Meski demikian, konsumsi rumah tangga diperkirakan masih tumbuh dan berpotensi sedikit meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya.

Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede memperkirakan, konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,16% secara tahunan atau year on year (yoy) pada kuartal III-2026. Pertumbuhan ini sedikit lebih tinggi dibandingkan realisasi kuartal II-2026 sebesar 5,06% yoy.


Baca Juga: Inflasi Tahunan Naik Jadi 3,28%, Mendagri Desak Pemda Perketat Pengendalian Harga

Menurut Josua, pelemahan sejumlah indikator konsumsi sepanjang kuartal III-2026 menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih menghadapi tekanan. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa konsumsi rumah tangga mengalami perlambatan tajam.

"Survei konsumen Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen September masih berada pada wilayah optimis sebesar 118,1, meskipun turun tipis dari 118,5 pada Agustus," ujar Josua kepada Kontan, Senin (12/10/2026).

Di sisi lain, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) melemah dari 109,4 pada Agustus menjadi 107,5 pada September 2026. Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh melemahnya persepsi masyarakat terhadap penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja.

Josua menambahkan, tekanan daya beli juga tercermin dari perubahan alokasi pendapatan rumah tangga. Proporsi pendapatan untuk konsumsi meningkat dari 74,2% menjadi 74,9%, sedangkan porsi tabungan turun dari 15,8% menjadi 15,4%.

Menurutnya, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa sebagian rumah tangga harus mengalokasikan pendapatan lebih besar untuk mempertahankan pengeluaran sehari-hari. Sehingga peningkatan porsi konsumsi belum tentu mencerminkan perbaikan kemampuan belanja masyarakat.

Pelemahan daya beli juga membuat pemulihan konsumsi belum merata, terutama pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah dan menengah.

Meski demikian, Josua menilai koreksi sejumlah indikator pada September perlu dibedakan dari kinerja konsumsi rumah tangga secara keseluruhan sepanjang kuartal III-2026.

Penjualan eceran pada September memang diperkirakan turun 2,3% secara bulanan atau month to month (mtm). Namun, secara tahunan, penjualan eceran masih tumbuh 1,4%, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Agustus sebesar 1,3%.

Secara kuartalan, pertumbuhan penjualan eceran juga diperkirakan membaik menjadi 1,3% yoy pada kuartal III-2026, setelah mengalami kontraksi 3,5% yoy pada kuartal II-2026.

"Artinya, koreksi bulanan September belum menunjukkan pelemahan permintaan yang terjadi secara berkelanjutan sepanjang triwulan," jelas Josua.

Meski konsumsi rumah tangga diperkirakan masih tumbuh di atas 5%, Josua menilai peningkatan tersebut relatif terbatas dan belum mencerminkan pemulihan daya beli yang kuat.

Pasalnya, pertumbuhan konsumsi masih lebih banyak ditopang oleh kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, pembelian barang bernilai besar masih menghadapi tekanan akibat kondisi pendapatan masyarakat dan biaya pembiayaan.

Dari sisi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan, Josua memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh sebesar 5,14% yoy pada kuartal III-2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 sebesar 5,29% yoy.

Perlambatan ekonomi tersebut tidak hanya disebabkan oleh konsumsi rumah tangga, tetapi juga dipengaruhi normalisasi pertumbuhan belanja pemerintah dan investasi.

Konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh 6,24% yoy pada kuartal III-2026, melambat dibandingkan pertumbuhan 15,97% yoy pada kuartal sebelumnya. Sementara itu, pertumbuhan investasi diperkirakan turun dari 6,87% yoy menjadi 5,53% yoy.

Kinerja ekspor juga masih menghadapi tekanan akibat permintaan global. Meski demikian, perlambatan ekonomi diperkirakan tetap terbatas karena realisasi belanja negara hingga September 2026 telah mencapai Rp 2.660,5 triliun, tumbuh 19% yoy.

Selain itu, aktivitas manufaktur menunjukkan perbaikan. Indeks aktivitas manufaktur meningkat dari 49,8 pada Agustus menjadi 52,4 pada September 2026.

Josua menilai, perbaikan aktivitas produksi dan investasi belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi peningkatan pendapatan serta daya beli rumah tangga. Karena itu, kualitas pertumbuhan ekonomi masih menjadi tantangan, terutama dalam memastikan manfaat pertumbuhan dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat.

Proyeksi Konsumsi Kuartal IV-2026

Baca Juga: Pemerintah Ubah Skema Pembayaran Utang Pajak Jadi Lebih Mudah, Berlaku 2 Oktober 2026

Memasuki kuartal IV-2026, Josua melihat konsumsi rumah tangga masih memiliki ruang untuk tumbuh. Namun, risiko perlambatan dinilai semakin besar seiring tekanan harga kebutuhan pokok dan belum kuatnya pertumbuhan pendapatan masyarakat.

Sejumlah faktor berpotensi menopang konsumsi pada akhir tahun, antara lain peningkatan aktivitas belanja menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), percepatan realisasi belanja pemerintah, serta tambahan permintaan dari program perlindungan sosial dan kegiatan ekonomi produktif.

Optimisme pelaku usaha juga tercermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan November yang meningkat menjadi 148,2 dari sebelumnya 143,9. Kenaikan ini mengindikasikan adanya ekspektasi peningkatan permintaan menjelang akhir tahun.

Namun, Josua mengingatkan bahwa optimisme tersebut perlu diimbangi dengan perbaikan pendapatan masyarakat.

Inflasi September 2026 yang meningkat menjadi 3,28% yoy berpotensi mempersempit ruang belanja rumah tangga, terutama untuk kebutuhan di luar pangan.

Selain itu, risiko El Niño yang dapat mengganggu produksi pangan, harga minyak yang masih tinggi, serta pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya produksi dan distribusi.

Apabila harga kebutuhan pokok terus meningkat sementara pendapatan masyarakat tidak tumbuh sebanding, rumah tangga cenderung mempertahankan konsumsi makanan dan kebutuhan rutin dengan mengurangi belanja pakaian, elektronik, kendaraan, rekreasi, serta barang tahan lama lainnya.

Kondisi tersebut berpotensi menahan pertumbuhan konsumsi meskipun aktivitas ekonomi biasanya meningkat menjelang akhir tahun.

Dalam skenario dasar, Josua memperkirakan konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,13% yoy pada kuartal IV-2026, sedikit melambat dibandingkan perkiraan kuartal III-2026 sebesar 5,16% yoy.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 5,03% yoy pada kuartal IV-2026. Dengan proyeksi tersebut, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 diperkirakan berada di kisaran 5,26%.

Menurut Josua, perlambatan ini masih tergolong moderat. Namun, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi semakin membutuhkan dukungan investasi produktif, belanja pemerintah yang efektif, dan aktivitas industri karena konsumsi rumah tangga belum mampu mengalami percepatan secara berkelanjutan.

Untuk menjaga daya beli, ia menilai pemerintah perlu memperkuat pengendalian harga pangan melalui kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi, mempercepat penyaluran bantuan sosial yang tepat sasaran, serta mengoptimalkan belanja pemerintah yang berdampak langsung terhadap kegiatan usaha dan penciptaan lapangan kerja.

Percepatan belanja negara juga perlu memperhatikan kualitas pelaksanaan agar menghasilkan tambahan pendapatan bagi masyarakat, bukan sekadar meningkatkan penyerapan anggaran.

Dalam jangka menengah, penguatan industri padat karya, peningkatan produktivitas, dan perbaikan iklim investasi dinilai penting untuk meningkatkan pendapatan kelompok menengah dan bawah yang memiliki kecenderungan konsumsi tinggi.

"Secara keseluruhan, saya melihat konsumsi rumah tangga Indonesia masih cukup tangguh, tetapi ketahanan tersebut mulai menghadapi tekanan akibat meningkatnya kebutuhan belanja rutin, melemahnya persepsi pendapatan dan lapangan kerja, serta berkurangnya kemampuan menabung," kata Josua.

Ia menegaskan, tantangan utama hingga akhir 2026 adalah memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya ditopang belanja pemerintah dan investasi berskala besar, tetapi juga diikuti peningkatan kesempatan kerja, pendapatan, dan kemampuan konsumsi masyarakat secara berkelanjutan.

Baca Juga: Kelas Menengah Makin Tertekan, Ekonom Usul PTKP Naik dan PPh 21 DTP Diperluas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News