Daya Beli Tertekan, Kenaikan Harga dan Biaya Produksi Ancam Pertumbuhan Ekonomi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga jual produk akibat lonjakan biaya produksi mulai mengancam daya beli masyarakat dan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi nasional. 

Tekanan ini dipicu oleh kenaikan harga bahan baku dan biaya logistik yang terus berlanjut seiring konflik geopolitik global yang belum mereda.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menilai kenaikan harga barang tak terelakkan karena berbagai komponen biaya produksi mengalami peningkatan signifikan. 


Lonjakan harga input, mulai dari bahan baku hingga ongkos distribusi, memaksa produsen menyesuaikan harga jual untuk menjaga margin usaha.

Baca Juga: Ekonom Nilai Momen Nataru 2025/2026 Hanya Jadi Pendongkrak Ekonomi Sesaat

“Kenaikan harga barang-barang ini tentunya merupakan berita buruk, ini akan semakin menggerus daya beli masyarakat, apalagi terjadi pada saat daya beli masyarakat sedang terpuruk,” ujar Wijayanto, Minggu (19/4/2026).

Ia menjelaskan, tekanan biaya produksi tidak hanya berdampak pada harga akhir, tetapi juga memengaruhi keputusan produsen dalam menjaga pasokan.

Ketidakpastian daya beli pasar membuat pelaku usaha cenderung menahan produksi guna menghindari risiko penumpukan barang.

Kondisi tersebut, lanjut Wijayanto, menciptakan tekanan ganda pada perekonomian. Di satu sisi, konsumsi masyarakat melemah akibat kenaikan harga.

Di sisi lain, pasokan barang juga berpotensi menyusut karena produsen menahan produksi.

Baca Juga: Ekonomi Indonesia Diprediksi Hanya Tumbuh 5,1% pada 2025 dan 5,2% pada 2026

Menurutnya, jika penurunan terjadi secara bersamaan pada sisi permintaan (demand) dan penawaran (supply), maka aktivitas ekonomi akan melambat. 

Dalam situasi ini, pertumbuhan ekonomi nasional berisiko tertekan, bahkan dapat mengalami stagnasi apabila kondisi berlanjut dalam jangka waktu panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News