Daya Beli Tertekan, Tigaraksa Satria (TGKA) Siapkan Strategi Kejar Target Laba 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Tigaraksa Satria Tbk (TGKA) masih menghadapi tantangan daya beli masyarakat hingga menjelang akhir kuartal III 2026. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membayangi upaya perusahaan mengejar target laba tahun ini.

Sebagai informasi, TGKA menargetkan laba tahun berjalan sebesar Rp 408,40 miliar pada 2026. Target tersebut hanya tumbuh sekitar 1,70% dibandingkan realisasi laba tahun 2025 sebesar Rp 401,58 miliar.

Corporate Secretary Tigaraksa Satria, Nelly mengatakan, kinerja perusahaan di bisnis fast moving consumer goods (FMCG) sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat.


"Menjelang penutupan Kuartal III-2026, kami melihat perkembangan kinerja perusahaan bergerak secara dinamis dan menantang," kata Nelly kepada Kontan, Senin (21/9/2026).

Baca Juga: Pasar Tablet Indonesia Kian Kompetitif, Produsen Membidik Segmen Premium

Menurut dia, tekanan terhadap daya beli antara lain berasal dari kondisi eksternal seperti harga minyak global yang tinggi, penguatan dolar AS, serta kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) yang masih hawkish.

Kondisi tersebut membuat konsumen cenderung lebih berhati-hati dalam menentukan pengeluaran. Meski demikian, Nelly menyebut perseroan masih melakukan sejumlah langkah untuk memitigasi tekanan tersebut.

TGKA antara lain mengoptimalkan penetrasi produk dan memperketat efisiensi operasional. Perseroan juga tetap menjaga kualitas produk dan layanan untuk mempertahankan permintaan.

Untuk mengejar target pertumbuhan, TGKA tidak hanya mengandalkan kenaikan penjualan. Perseroan juga berupaya mendorong pertumbuhan organik dari prinsipal lama melalui perbaikan distribusi, perluasan cakupan outlet, serta dukungan promosi dari prinsipal.

Di sisi lain, TGKA membuka peluang pertumbuhan melalui penambahan prinsipal baru dengan produk yang dinilai memiliki harga kompetitif dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga: Industri Baja Tertekan Kenaikan Harga Minyak

Perusahaan juga melakukan monitoring serta efisiensi proses bisnis agar realisasi biaya tetap berada dalam batas anggaran. Selain itu, utilisasi layanan pergudangan dan transportasi melalui Tira Cipta Logistik dan Tira Cipta Transportation turut menjadi bagian dari strategi perseroan.

Memasuki kuartal IV, TGKA masih mengandalkan bisnis produk konsumen sebagai penopang utama pendapatan. Segmen tersebut mencakup baby & child & nutrition, food & beverage, non-food, serta cold chain products.

Selain bisnis utama tersebut, kontribusi diharapkan datang dari sejumlah lini usaha lain. Di antaranya penjualan dan distribusi Smart Family Products melalui Tira Satria Niaga, layanan pengisian ulang gas dan distribusi peralatan dapur melalui Blue Gas Indonesia, serta produksi dan pengemasan susu bubuk melalui unit Manufacturing Services.

TGKA juga mengandalkan bisnis pergudangan dan transportasi dengan fasilitas cold storage melalui Tira Cipta Logistik dan Tira Cipta Transportation.

"Kami yakin kombinasi dari volume penjualan yang kuat, product mix, monitoring dan efisiensi proses bisnis yang terus ditingkatkan akan mendorong pencapaian target yang lebih maksimal," ujar Nelly.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News