Daya Beli Warga Korsel Terancam, Ini Cara Hadapi Inflasi Tinggi



KONTAN.CO.ID - SEOUL. Tekanan inflasi di Korea Selatan mulai menunjukkan tanda-tanda menguat, seiring lonjakan harga energi global akibat konflik Iran yang belum mereda. Kenaikan ini menjadi sinyal bahwa stabilitas harga yang selama ini dijaga ketat mulai menghadapi ujian serius.

Melansir Bloomberg (2/4), data terbaru menunjukkan inflasi konsumen pada Maret 2026 naik menjadi 2,2% secara tahunan, sedikit di atas target bank sentral. Meski terlihat moderat, angka ini mencerminkan tekanan yang kian meluas, terutama karena didorong faktor eksternal yang sulit dikendalikan otoritas domestik.

Kondisi ini diperparah oleh lonjakan harga minyak dunia. Harga Brent yang melesat lebih dari 40% dalam sebulan menjadi pukulan telak bagi ekonomi yang sangat bergantung pada impor energi. Bagi Korea Selatan, yang hampir seluruh kebutuhan energinya berasal dari luar negeri, kenaikan ini bukan sekadar angka melainkan ancaman langsung terhadap daya beli dan biaya produksi.


Bank of Korea pun mulai memberi sinyal waspada. Calon gubernur Hyun Song Shin menilai lonjakan harga minyak membawa dua risiko sekaligus, yakni mendorong inflasi naik lebih cepat, namun di sisi lain menekan pertumbuhan ekonomi. Situasi ini menempatkan bank sentral dalam posisi sulit menjaga inflasi tanpa membunuh momentum pemulihan ekonomi.

Masalahnya, tekanan yang terlihat di permukaan bisa jadi belum mencerminkan kondisi sebenarnya. Inflasi inti memang sedikit melandai, tetapi berbagai kebijakan pemerintah seperti pembatasan harga bahan bakar dan intervensi pangan ditengarai menahan dampak yang seharusnya lebih besar ke konsumen. Artinya, tekanan laten masih mengintai dan berpotensi muncul dalam beberapa bulan ke depan.

Di sisi lain, pelemahan nilai tukar memperumit keadaan. Won terdepresiasi sekitar 5% terhadap dolar AS sepanjang Maret, bahkan sempat menyentuh level terlemah sejak krisis keuangan global. Kombinasi mata uang lemah dan harga energi yang dibanderol dolar memperbesar efek inflasi impor sebuah double hit bagi ekonomi domestik.

Meski demikian, otoritas tampak belum tergesa-gesa. Bank of Korea diperkirakan akan menahan suku bunga pada level 2,5% dalam pertemuan April, menandakan pendekatan wait and see masih menjadi pilihan utama. Gubernur Rhee Chang Yong kemungkinan akan mengakhiri masa jabatannya tanpa perubahan kebijakan signifikan.

Baca Juga: Ekonomi China: Manufaktur Ekspansi 4 Bulan, Tapi Ancaman Inflasi Mengintai!

Langkah pemerintah pun cenderung defensif. Administrasi Presiden Lee Jae Myung menggulirkan stimulus tambahan dan memperpanjang subsidi energi guna meredam gejolak. Namun, efektivitas kebijakan ini patut dipertanyakan. Intervensi harga memang mampu menahan inflasi dalam jangka pendek, tetapi berisiko menunda penyesuaian yang lebih sehat di kemudian hari.

Ekonom melihat inflasi berpotensi terus naik hingga mendekati 3% pada paruh kedua tahun ini. Jika proyeksi ini terealisasi, maka ruang kebijakan bank sentral akan semakin sempit, terutama jika pertumbuhan ekonomi justru melemah.

Yang tak kalah mengkhawatirkan, risiko geopolitik belum menunjukkan tanda mereda. Konflik yang berkepanjangan berpotensi menjaga harga energi tetap tinggi, sekaligus meningkatkan volatilitas pasar keuangan. Dalam skenario ini, Korea Selatan bukan hanya menghadapi inflasi yang lebih tinggi, tetapi juga ketidakpastian ekonomi yang lebih dalam.

Dengan kata lain, tekanan inflasi saat ini mungkin baru permulaan. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana otoritas menavigasi kombinasi berbahaya antara harga energi tinggi, mata uang lemah, dan pertumbuhan yang rentan tanpa kehilangan kendali atas stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Baca Juga: Inflasi Inti Tokyo Melambat Maret, Tapi Risiko Lonjakan Harga Akibat Perang Menguat

TAG: