Daya Serap Obligasi Korporasi Masih Kuat, Investor Kian Selektif



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Daya serap pasar modal terhadap penerbitan obligasi korporasi diperkirakan tetap terjaga pada semester II-2026 ditopang oleh likuiditas lembaga keuangan domestik.

Namun, investor kini cenderung lebih selektif dengan mengedepankan kualitas kredit emiten dan tawaran imbal hasil yang menarik.

Prospek penyerapan emisi baru-baru ini menjadi titik krusial di tengah tren kenaikan biaya dana.


Portfolio Manager Batavia Prosperindo Aset Manajemen Putri Nur Astiwi mengatakan, likuiditas dari perbankan, dana pensiun, asuransi, hingga reksa dana masih menjadi penopang utama pasar surat utang.

Baca Juga: Ekspansi Teknologi Topang Prospek Siloam (SILO), Cermati Rekomendasi Analis

Meskipun demikian, keberhasilan penyerapan emisi baru akan sangat bergantung pada sektor usaha dan keunggulan kupon yang ditawarkan emiten.

"Emiten dengan fundamental kuat dan menawarkan spread yang menarik dibandingkan SBN berpotensi tetap memperoleh permintaan yang baik, sementara emiten dengan kualitas kredit lebih rendah kemungkinan harus menawarkan premi yield yang lebih tinggi," ujar Putri kepada Kontan, Rabu (22/7/2026).

Putri menjelaskan bahwa lonjakan yield SBN berdampak signifikan terhadap penentuan harga obligasi korporasi karena posisinya sebagai acuan utama.

Ketika yield acuan naik di tengah ketidakpastian pasar, premi risiko instrumen korporasi cenderung melebar sehingga kenaikan imbal hasilnya bergerak jauh lebih tinggi daripada SBN.

Terjadinya fenomena flight to quality turut mendorong pergeseran alokasi dana investor ke instrumen berperingkat tinggi.

Memasuki semester II-2026, syarat penyerapan pasar untuk instrumen berperingkat menengah seperti kategori BBB diprediksi menjadi jauh lebih ketat.

"Sehingga obligasi BBB harus menawarkan spread yang lebih menarik serta didukung fundamental yang kuat agar tetap kompetitif di pasar," kata Putri.

Tanda-tanda ketatnya persaingan tersebut sejatinya telah tercermin sepanjang paruh pertama tahun ini.

Baca Juga: Arus Dana ETF Bitcoin Berbalik Positif, Sinyal Investor Institusi Mulai Pulih

Data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat, total penerbitan surat utang korporasi semester I-2026 sebesar Rp 87,35 triliun atau menyusut 3,91% YoY.

Selaras dengan pandangan Putri, penerbitan Semester I didominasi penuh oleh emiten berperingkat tinggi, yakni single A sebesar 44,78%, triple A 35,26%, dan double A 19,96%.

Sedangkan instrumen berperingkat BBB belum mencatatkan penerbitan sama sekali. 

Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo, Suhindarto, mengungkapkan bahwa pergerakan yield SBN secara langsung mendorong pembentukan kupon di seluruh kategori peringkat.

"Kenaikan yield ini juga membuat pembentukan kupon yang terjadi di pasar sudah mengalami peningkatan, yang mana kami perkirakan trennya masih akan terus berlanjut seiring dengan kondisi yield benchmark yang juga tinggi dan arah kebijakan moneter kita yang akan mengetat ke depan," tutur Suhindarto dalam konferensi pers, Rabu (22/7/2026). 

Kendati demikian, Suhindarto optimistis penerbitan Semester II-2026 tetap solid seiring melonjaknya nilai jatuh tempo hingga Rp 107,51 triliun dan tersedianya mandat pemeringkatan senilai Rp 50,82 triliun. 

Baca Juga: Saham Dian Swastika (DSSA) Dalam Radar Usai Akuisisi BMT Bernilai Rp 8,54 Triliun

Memasuki paruh kedua tahun ini, kecermatan emiten dalam menentukan momentum dan tingkat imbal hasil menjadi kunci utama penyerapan emisi

Fleksibilitas struktur penawaran akan menentukan keberhasilan penggalangan dana korporasi di pasar modal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News