DBS Nilai Risiko Saham Indonesia Turun ke Frontier Market Terbatas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. DBS Bank menilai peluang pasar saham Indonesia diturunkan statusnya dari emerging market (EM) ke frontier market (FM) relatif kecil, meskipun isu tersebut sempat menekan sentimen investor.

Investment Strategist DBS Bank, Joanne Goh, menyebut tekanan jangka pendek terhadap pasar saham Indonesia lebih dipicu kekhawatiran teknis dibandingkan pelemahan fundamental ekonomi. 

Menurutnya, penurunan status pasar umumnya terjadi ketika suatu negara gagal memenuhi kriteria ukuran, likuiditas, atau aksesibilitas bagi investor asing.


Baca Juga: Dipantau MSCI, Indo Premier: RI Bisa Belajar dari Hong Kong, India, dan Negara Nordik

“Penyesuaian klasifikasi pasar biasanya lebih bersifat teknis pasar saham, bukan didorong kondisi 

ekonomi,” tulis Joanne dalam riset DBS yang dirilis Jumat (30/1).

Ia menambahkan, penyedia indeks global juga dapat mengambil sejumlah langkah mitigasi, mulai dari mengeluarkan saham tertentu, memperbarui data free float, hingga menerapkan faktor likuiditas untuk seluruh pasar.

Sebagai ilustrasi, penyedia indeks pernah menerapkan faktor likuiditas pada saham China A saat pertama kali dimasukkan ke dalam indeks Emerging Asia, Asia ex-Japan, dan Emerging Markets.

“Kami menilai kemungkinan Indonesia dikeluarkan dari status emerging market relatif kecil. Pandangan fundamental kami terhadap Indonesia tetap positif, terutama untuk saham berkapitalisasi besar,” jelas Joanne.

Bahkan dalam skenario terburuk jika direklasifikasi menjadi frontier market, Joanne menilai dampaknya masih dapat dikelola karena ukuran pasar Indonesia masih tergolong besar. 

Di mana, Indonesia akan tetap menjadi  pasar terbesar di kategori frontier market dengan ukuran sekitar setengah dari total kapitalisasi seluruh pasar frontier market.

Baca Juga: DBS Tetap Overweight Saham Indonesia, Investor Disarankan Jaga Alokasi

Menurutnya, daya tarik Indonesia terletak pada valuasi pasar yang relatif murah, manfaat bonus demografi, serta posisinya sebagai penerima manfaat dari siklus komoditas yang masih berada pada fase menguntungkan.

Duss, DBS tetap mempertahankan rekomendasi overweight dan menyarankan investor mengoleksi saham-saham unggulan berkapitalisasi besar pada valuasi yang lebih rendah.

“Rasio price to earnings (PER) IHSG dan LQ45 saat ini masih berada di bawah rata-rata historisnya. Hingga volatilitas mereda dan dana aktif kembali masuk, investor masih perlu menjaga alokasi terhadap pasar saham Indonesia,” jelas Joanne.

 

Selanjutnya: Prabowo Peringatkan Eks Petinggi BUMN, Langkah Penting Menuju Negara Sehat

Menarik Dibaca: Desain iPhone 17e: Bezel Tipis dan Charger Super Cepat Menanti

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News