KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah tekanan nilai tukar rupiah, tabungan valuta asing (valas) perbankan menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan dan diperkirakan masih berlanjut. Data Bank Indonesia (BI) mencatat simpanan valas perbankan tumbuh 8,6% secara tahunan (
year-on-year/YoY) menjadi Rp 2.338,6 triliun per Maret 2026. Dari sisi komponen, tabungan mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni 24,4% YoY menjadi Rp 242,9 triliun.
Baca Juga: Dana Murah Tembus Rp1.000 triliun, Cost of Fund BRI Turun ke 2,3% di Triwulan I 2026 Tren serupa juga terlihat di Bank DBS Indonesia. Head of Segmentation & Liabilities Consumer Banking Group DBS Indonesia Natalina Syabana mengungkapkan bahwa dana pihak ketiga (DPK) perseroan tumbuh double digit pada kuartal I-2026. Meski demikian, sekitar 80% nasabah masih menempatkan dana pada tabungan rupiah, mencerminkan kepercayaan yang tetap kuat terhadap mata uang domestik. Sementara itu, tabungan valas lebih difungsikan sebagai instrumen pelengkap dalam strategi keuangan nasabah. “Hal ini sejalan dengan komitmen bank dalam mendorong nasabah untuk melakukan diversifikasi aset,” ujar Natalina kepada Kontan.
Baca Juga: BCA Implementasikan QRIS Cross Border di China Namun, dengan nilai tukar rupiah yang masih dipengaruhi dinamika global, permintaan terhadap tabungan valas diproyeksikan terus meningkat, terutama dari segmen affluent yang membutuhkan diversifikasi portofolio.
Selain faktor pelemahan rupiah, variasi produk berbasis valas yang semakin beragam juga menjadi katalis tambahan. Beberapa di antaranya adalah instrumen Surat Berharga Negara (SBN) berdenominasi mata uang asing seperti INDON AUD (Kangaroo Bond) dan INDON CNH (Dim Sum Bond), yang memberikan alternatif pengelolaan aset bagi nasabah. Ke depan, DBS Indonesia memproyeksikan saldo tabungan valas akan tumbuh lebih dari 10% hingga akhir 2026, seiring meningkatnya pemahaman nasabah terhadap produk-produk valas di pasar. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News