KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Upaya perdamaian dalam konflik Iran kembali menghadapi hambatan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatalkan kunjungan dua utusan AS ke Pakistan. Keputusan ini memperburuk prospek negosiasi damai, menyusul kegagalan pembicaraan awal antara Iran dan Pakistan. Trump membatalkan rencana kunjungan utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Islamabad dengan alasan efisiensi perjalanan serta ketidakpuasan terhadap tawaran terbaru Iran. Ia menyebut proposal Teheran belum memenuhi ekspektasi Washington. Dalam pernyataannya kepada media, Trump mengatakan bahwa Iran telah memperbaiki tawaran perdamaian setelah pembatalan kunjungan tersebut, namun dinilai “belum cukup”. Melalui media sosial Truth Social, Trump juga menyinggung adanya konflik internal di pemerintahan Iran.
"Tidak ada yang tahu siapa yang memegang kendali, termasuk mereka sendiri. Selain itu, kami memegang semua kartu, mereka tidak punya apa-apa! Jika mereka ingin berbicara, yang perlu mereka lakukan hanyalah menelepon!!!" tulis Trump.
Negosiasi Buntu di Islamabad
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi meninggalkan Islamabad tanpa adanya terobosan signifikan setelah bertemu dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan pejabat tinggi lainnya.
Baca Juga: Empat Orang Tewas Dalam Serangan Israel di Lebanon Selatan Meski Araqchi menyebut kunjungannya “sangat produktif”, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Teheran tidak akan menerima negosiasi yang dipaksakan di bawah tekanan atau blokade. Dalam komunikasi dengan Sharif, Pezeshkian menyatakan bahwa Amerika Serikat harus terlebih dahulu menghapus hambatan operasional, termasuk blokade terhadap pelabuhan Iran, sebagai langkah awal menuju penyelesaian konflik.
Kebuntuan AS-Iran dan Dampak Global
Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran saat ini berada dalam kebuntuan. Iran dilaporkan telah membatasi akses di Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Di sisi lain, AS tetap memberlakukan pembatasan terhadap ekspor minyak Iran. Situasi ini memperburuk ketegangan yang telah berlangsung sejak serangan udara AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu. Sejak itu, Iran melancarkan serangan balasan ke Israel, pangkalan militer AS, serta negara-negara Teluk. Konflik ini mendorong lonjakan harga energi global ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, memicu inflasi dan meningkatkan risiko perlambatan ekonomi dunia.
Posisi Iran dan Respons AS
Dalam pernyataannya, Araqchi menegaskan posisi Iran terkait gencatan senjata dan penghentian penuh konflik yang disebut sebagai “perang yang dipaksakan”. Sumber diplomatik Iran menyebut Teheran tidak akan menerima tuntutan maksimal dari pihak AS dalam negosiasi.
Baca Juga: Trump Undang Pemenang Koin Meme, Nilai Token Justru Anjlok Di sisi lain, Gedung Putih sebelumnya menyatakan adanya kemajuan dalam komunikasi dengan Iran dalam beberapa hari terakhir. Wakil Presiden AS JD Vance bahkan disebut siap melakukan kunjungan ke Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan.
Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Vance sebelumnya memimpin putaran pertama negosiasi di Islamabad yang juga berakhir tanpa kesepakatan.
Ketegangan Regional Kian Meningkat
Di tengah mandeknya jalur diplomasi, ketegangan di kawasan terus meningkat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan memerintahkan serangan terhadap target Hezbollah di Lebanon, meskipun gencatan senjata telah berlangsung selama tiga pekan. Langkah ini berpotensi memperluas konflik di kawasan Timur Tengah dan semakin mempersulit upaya perdamaian. Dengan situasi yang semakin kompleks, prospek penyelesaian konflik dalam waktu dekat masih terlihat suram, sementara dampaknya terhadap stabilitas energi global dan geopolitik terus berlanjut.