Debit Air Turun Imbas El Nino, Produksi PLTA Terancam Anjlok



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kapasitas produksi sumber energi terbarukan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) menurun imbas penurunan debit air secara signifikan yang dipicu El Nino. Hal ini dikhawatirkan dapat meningkatkan emisi karbon lantaran penggunaan pembangkit diesel sementara. Ketua Pusat Studi Energi Terbarukan Indonesia atau Indonesia Center for Renewable Energy Studies (ICRES), Surya Darma mengatakan, El Nino memang menjadi ujian berat bagi keandalan pembangkit listrik tenaga air, baik PLTA, Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM), maupun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Ia menjelaskan, PLTA skala besar sering difungsikan sebagai penopang beban puncak (peaker) dan penyedia daya baseload.

Baca Juga: Jasa Marga (JSMR) Masih Punya Ruang untuk Tumbuh, Ini Pendorongnya "Maka, ketika faktor kapasitas PLTA anjlok akibat penurunan debit air akibat el nino, margin cadangan (reserve margin) sistem kelistrikan terancam," kata Surya kepada Kontan, Jumat (18/9/2026). Hal ini, lanjutnya, terutama terjadi di wilayah dengan porsi hidro tinggi seperti sistem Sulawesi. Wilayah seperti Sulawesi dinilai rentan mengalami penurunan kualitas daya atau pembatasan beban. Hal tersebut lantaran wilayah ini memiliki konsentrasi industri pengolahan mineral (smelter) yang masif dan sangat bergantung pada pasokan energi yang stabil. Yang menjadi persoalan, untuk menutupi hilangnya daya dari PLTA, Surya mencermati bahwa operator sistem (PLN) biasanya terpaksa mengoperasikan pembangkit fosil penyeimbang berupa peaker berbasis BBM/Diesel atau PLTU. "Pembangkit ini fleksibel namun berbiaya bahan bakar sangat tinggi. Hal ini menaikkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) kelistrikan secara keseluruhan," jelasnya. Dengan demikian, Surya menyoroti, ketergantungan sementara pada pembangkit fosil untuk menggantikan porsi hidro yang hilang dapat memicu lonjakan emisi karbon jangka pendek (carbon rebound). "Hal ini dapat merusak ritme pencapaian target penurunan emisi nasional," imbuhnya. Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengakui sejumlah daerah mengalami keterbatasan pasokan daya akibat faktor cuaca ekstrem El Nino. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap operasional fasilitas pembangkit listrik setempat.

Baca Juga: Progres 28,5%, Wijaya Karya (WIKA) Targetkan Reservoir DC Semanan Rampung Juli 2027 Untuk menjaga keandalan pasokan energi di wilayah tersebut, ia bilang pemerintah bersama PLN telah menyiapkan penanganan darurat. "Maka kita sudah mencari solusi, adalah mengganti sementara dengan pembangkit yang lain," tutur Bahlil. Surya menilai bahwa pernyataan Bahlil tersebut menunjukkan adanya tantangan nyata di lapangan bagi pemanfaatan energi terbarukan di tengah El Nino "Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mencerminkan variabilitas iklim berdampak langsung pada capacity factor (CF) PLTA yang fluktuatif musim kemarau," imbuhnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News