KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Langkah debt switching oleh Bank Indonesia pada tahun 2026 dinilai membantu pemerintah mengurangi risiko fiskal. Angka ini khususnya risiko fiscal cliffs akibat besarnya Surat Berharga Negara (SBN) yang jatuh tempo dalam jangka pendek. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menjelaskan, jumlah SBN yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan mencapai Rp 1.053,46 triliun, atau sekitar 15,81% dari total SBN marketable. Dalam kondisi tersebut, debt switching berperan penting untuk meratakan profil jatuh tempo utang, sehingga tekanan pembiayaan tidak menumpuk dalam periode tertentu. “Debt switching membantu mengurangi risiko fiskal, terutama risiko fiscal cliffs akibat tingginya jatuh tempo SBN dalam jangka pendek,” ujar David kepada Kontan, Rabu (28/1/2026).
Debt Switching Dinilai Bisa Redam Risiko Fiscal Cliffs, Dampak ke Pasar Terbatas
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Langkah debt switching oleh Bank Indonesia pada tahun 2026 dinilai membantu pemerintah mengurangi risiko fiskal. Angka ini khususnya risiko fiscal cliffs akibat besarnya Surat Berharga Negara (SBN) yang jatuh tempo dalam jangka pendek. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menjelaskan, jumlah SBN yang akan jatuh tempo dalam 12 bulan ke depan mencapai Rp 1.053,46 triliun, atau sekitar 15,81% dari total SBN marketable. Dalam kondisi tersebut, debt switching berperan penting untuk meratakan profil jatuh tempo utang, sehingga tekanan pembiayaan tidak menumpuk dalam periode tertentu. “Debt switching membantu mengurangi risiko fiskal, terutama risiko fiscal cliffs akibat tingginya jatuh tempo SBN dalam jangka pendek,” ujar David kepada Kontan, Rabu (28/1/2026).