KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perusahaan milik pasangan selebritis Tanah Air Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, PT Rans Entertainmen Indonesia siap debut di lantai Bursa Efek Indonesia melalui skema Initial Public Offering (IPO). Calon emiten dengan kode saham RANS ini menawarkan maksimal 2.525.000 saham atau setara dengan 20,02% dari modal ditempatkan dan disetor pasca IPO. Pada masa
bookbuilding, RANS mematok harga di kisaran Rp 135–Rp 170. Dus, RANS berpotensi mengantongi dana segar sebesar Rp 429 miliar.
Berdasarkan alokasi penggunaan dana IPO, RANS menganggarkan sekitar 6,98% untuk pembayaran lebih awal atas seluruh pokok utang kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,10% ke Rp 17.861 per Dolar AS pada Selasa (23/6) Siang Kemudian sekitar 18,64% akan digunakan sebagai belanja modal atau capital expenditure atas rencana ekspansi usaha dalam rangka pembangunan wahana bermain dan belajar edukatif dengan nama Cipungland. Selanjutnya, alokasi 37,61% dari dana IPO bakal digunakan oleh RANS untuk belanja operasional alias
operational expenditure dalam rangka penyelenggaraan konser di berbagai kota di Indonesia. Lebih lanjut, dana IPO sebanyak 8,15% akan digunakan oleh RANS untuk membentuk suatu entitas usaha baru bersama dengan partner usaha yaitu PT Global Teknologi dalam rangka pengembangan bisnis teknologi berbasis AI. Lalu sekitar 19,80% akan digunakan oleh RANS untuk ekspansi usaha melalui akuisisi kepemilikan saham pada PT Rans Kosmetika Indonesia atau dengan merek Slavina. Terakhir, sisa dana IPO akan digunakan oleh RANS untuk melakukan penyetoran modal kepada entitas anak, dalam bentuk setoran modal saham. Jika tidak ada aral melintang, perusahaan ini akan tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 10 Juli 2026 mendatang. Berdasarkan kinerja keuangannya, RANS melaporkan pendapatan sebesar Rp 353,37 miliar per tahun 2025, menurun 13,91% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 410,49 miliar. Sejalan dengan penurunan pendapatan, laba tahun berjalan juga tergerus. Pada tahun 2025, laba RANS mencapai Rp 56,68 miliar, anjlok 41,59% dari periode tahun 2024 senilai Rp 97,06 miliar. Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan prospek IPO RANS akan sangat ditentukan oleh perpaduan antara kekuatan merek yang dimiliki perusahaan dan kemampuan manajemen dalam mengeksekusi strategi bisnis ke depan. Pada fase awal setelah melantai di bursa, pergerakan saham kemungkinan akan lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen pasar dibandingkan faktor fundamental semata.
Baca Juga: IHSG Anjlok 1,29% ke 6.037 di Sesi I Selasa (23/6), ANTM, PTBA, INCO Top Losers LQ45 Dari sisi peluang pertumbuhan, RANS memiliki sejumlah keunggulan, seperti brand yang kuat, jangkauan audiens yang luas, serta ekosistem hiburan dan digital yang terintegrasi. Faktor-faktor tersebut berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan bisnis di masa mendatang. Meski demikian, investor akan tetap menaruh perhatian besar pada visibilitas pendapatan, kualitas monetisasi, dan kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas secara berkelanjutan. "Sektor media dan hiburan cenderung fluktuatif, serta sangat bergantung pada konsistensi konten serta strategi diversifikasi
revenue," kata Elandry kepada Kontan, Selasa (23/6/2026). Terkait valuasi, penilaian mahal atau murah tidak dapat ditentukan hanya dari nominal valuasinya. "Tapi dari bagaimana pasar memberi
growth premium terhadap bisnis ini," tambah Elandry.
Jika dibandingkan dengan emiten sejenis di kawasan regional, IPO RANS kemungkinan akan dinilai berdasarkan ekspektasi pertumbuhan jangka panjang, sehingga volatilitas harga saham pada masa awal perdagangan berpotensi tetap tinggi. Bagi investor, khususnya investor ritel, penting untuk tidak semata-mata terpengaruh oleh euforia IPO. Fokus utama sebaiknya tetap pada pemahaman terhadap fundamental perusahaan, termasuk model bisnis, kondisi arus kas, serta prospek pertumbuhan laba dalam jangka menengah hingga panjang. "Untuk investor, terutama ritel, yang perlu diperhatikan adalah tidak hanya
hype IPO, tetapi memahami fundamental seperti model bisnis, arus kas, dan prospek profit jangka menengah. Selain itu, penting juga mencermati struktur penawaran dan potensi tekanan jual dari pemegang saham lama atau
liquidity overhang, serta disiplin terhadap
entry point agar tidak terjebak FOMO-
driven buying di hari-hari awal perdagangan," tutup Elandry. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News