KONTAN.CO.ID – DAVOS. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) resmi melakukan debut internasional dalam ajang World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss. Dalam sesi bertajuk “Danantara: Powering Indonesia’s Future” di Davos, Selasa (20/1), Danantara memaparkan tiga proyek unggulan yang dirancang untuk menarik modal global sekaligus memberikan dampak ekonomi hingga level akar rumput. Tiga proyek tersebut mencakup pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) atau waste to energy (WtE) di 33 kota, pengembangan obat berbasis plasma darah, serta pembangunan Kompleks Haji berstandar internasional di Makkah.
Managing Director Investment Danantara Investment Management, Stefanus Ade Hadiwidjaja menjelaskan, strategi investasi Danantara kini selaras dengan prioritas pembangunan nasional yang terdiversifikasi. Ia menekankan pentingnya membangun fondasi yang kuat sebelum melakukan akselerasi besar-besaran.
Baca Juga: Danantara Bidik Peluang Investasi dan Teknologi dari Inggris “Danantara Indonesia ingin membangun sesuatu yang tahan lama dan memberikan dampak bagi masyarakat. Kami ingin bergerak dengan cepat, tetapi kami tidak terburu-buru,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Kamis (22/1/2026). Stefanus menambahkan, dalam eksekusi proyek-proyek ini, aspek manajemen risiko dan tata kelola menjadi sorotan. Hal ini untuk memosisikan Danantara sebagai platform investasi yang kredibel di mata investor global. Selain memaparkan proyek, Danantara juga membawa misi reformasi tata kelola BUMN. Managing Director Global Relations & Governance Danantara Indonesia, Mohamad Al-Arief mengungkapkan, konsolidasi BUMN kini mengedepankan profesionalisme dan disiplin pasar. Salah satu langkah yang dipaparkan adalah penghapusan tantiem bagi seluruh dewan komisaris BUMN. Kebijakan ini diklaim berpotensi menghemat anggaran negara hingga Rp 8 triliun sampai Rp 8,3 triliun per tahun.
Baca Juga: Danantara Diproyeksikan Jadi Motor Investasi 2026, Kepastian Kebijakan Jadi Penentu “Reformasi pada prinsipnya adalah tentang menukar kenyamanan jangka pendek dengan kepercayaan pasar jangka panjang,” tegas Al-Arief. Hadirnya Danantara di Davos juga dimanfaatkan untuk melakukan serangkaian pertemuan bilateral dengan berbagai pemain besar. Delegasi Danantara tercatat menemui perwakilan Google untuk membahas teknologi, LG Sonic terkait pengolahan air, hingga perusahaan Swiss untuk memperdalam proyek waste-to-energy.
Melalui langkah ini, Danantara berupaya menghubungkan likuiditas modal global dengan agenda pembangunan jangka panjang Indonesia. Targetnya, investasi yang masuk tidak hanya mengejar imbal hasil (return), tetapi memiliki dampak sosial ekonomi yang terukur bagi masyarakat luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News