KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Apple resmi memasarkan seri iPhone 18 di Indonesia. Perangkat ini sebelumnya sudah lebih dulu hadir di pasar internasional pada September 2026. Kehadiran seri terbaru tersebut di dalam negeri dimulai lewat dibukanya masa pre-order di berbagai gerai Apple Premium Reseller (APR) pada Rabu (7/10/2026). Dua varian yang ditawarkan adalah iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max. Untuk model iPhone 18 Pro dibanderol mulai Rp 27.499.000, sementara iPhone 18 Pro Max dijual dengan harga mulai dari Rp 29.499.000.
Kehadiran produk flagship baru ini dipandang berpotensi mengerek kinerja PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), yang selama ini menjadi salah satu pemain utama dalam distribusi dan ritel produk Apple di Indonesia.
Baca Juga: FTSE Russell Pertahankan Status RI, Sektor Ini Jadi Pilihan Investor Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan peluncuran iPhone 18 berpotensi menjadi katalis positif bagi penjualan ERAA pada kuartal IV-2026, terutama melalui peningkatan permintaan produk premium. Namun, dampaknya terhadap laba akan bergantung pada volume penjualan, daya beli konsumen, dan kemampuan perseroan menjaga margin di tengah fluktuasi nilai tukar. Dus, ERAA perlu mengoptimalkan momentum melalui ketersediaan stok, program trade-in, cicilan, dan promosi di jaringan iBox serta kanal daring. "Penjualan aksesori dan diversifikasi produk juga penting untuk meningkatkan nilai transaksi dan menjaga margin, kata Azis kepada Kontan, Kamis (8/10/2026). Sementara itu, Head of Research Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyebut dampak peluncuran seri ini tergolong besar bagi pendapatan tetapi kecil bagi laba. Margin distribusi ponsel premium tergolong tipis, sehingga kenaikan laba tidak akan sebesar kenaikan pendapatan. Tapi, ada sisi positif peluncuran di tahun ini. iPhone 18 bisa dipesan lebih cepat, berbeda dengan beberapa tahun lalu ketika peluncuran di Indonesia tertunda akibat urusan perizinan. Dengan demikian, momentum akhir tahun dapat dimanfaatkan penuh. "Namun pelemahan rupiah menjadi penahan karena membuat harga dalam rupiah lebih mahal, meski konsumen segmen premium relatif tidak terlalu sensitif terhadap harga," ucap Wafi. Bagi ERAA, menurut Wafi, kuncinya adalah mendongkrak margin di sekitar penjualan iPhone, bukan dari seri iPhone itu sendiri. Caranya antara lain, menawarkan paket bundling dengan aksesori dan layanan purna jual yang marginnya lebih tebal, menjalankan program tukar tambah untuk mempercepat siklus pembelian, menggandeng penyedia cicilan tanpa bunga untuk menjaga permintaan saat daya beli tertekan, serta memanfaatkan lalu lintas pembeli ke gerai untuk mendorong penjualan produk gaya hidup lainnya. Disamping itu, Wafi mengingatkan investor agar tidak menilai dari ramainya pemesanan. Yang perlu dicermati adalah margin kotor, apakah naik atau justru tertekan karena bauran produk bergeser ke ponsel premium, hari persediaan karena stok ponsel mahal mengikat modal kerja serta cermati beban bunga. Sebab modal kerja yang membesar di tengah suku bunga tinggi menambah biaya. Sementara itu, Azis bilang investor sebaiknya mencermati pertumbuhan penjualan, SSSG, margin laba, dan kinerja kuartal IV-2026. Peluncuran iPhone berpotensi meningkatkan pendapatan, tetapi belum tentu mendorong laba secara proporsional jika biaya dan promosi meningkat. "Perhatikan pula apakah sentimen tersebut sudah tercermin dalam harga saham," tambah Azis.
Rekomendasi Saham Dari sisi rekomendasi saham, Azis menyarankan trading buy ERAA dengan target harga Rp 650 per saham.
Adapun dari sisi teknikal, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menyampaikan saham ERAA saat ini masih berada dalam fase bullish dan berpeluang melanjutkan trend tersebut. Investor perlu konfirmasi lebih lanjut jika breakout di harga Rp 650 per saham. Dus, Alrich menyarankan
buy saham ERAA di target harga Rp 600-Rp 610 dengan target harga terdekat Rp 650 per saham dan target selanjutnya di Rp 700 per saham. Adapun
stop loss berada di bawah Rp 590 per saham.
Baca Juga: Permintaan Batubara India Naik, Emiten Mana yang Berpotensi Kecipratan Cuan? Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News