Dedolarisasi Makin Nyata, Yuan China Geser Dominasi Dolar AS di Rusia



KONTAN.CO.ID - Yuan China adalah mata uang asing yang paling banyak diperdagangkan di Bursa Moskow di sepanjang tahun lalu, menggeser posisi dolar AS.

Mengutip Business Insider, renminbi menyumbang 42% dari seluruh perdagangan mata uang asing di bursa terbesar Rusia. 

Data tersebut dilaporkan pertama kali oleh Reuters pada hari Kamis (18/1/2024), mengutip data yang dikumpulkan oleh outlet berita Rusia Kommersant Daily.


Data yang sama menunjukkan, volume yuan yang diperdagangkan meningkat tiga kali lipat menjadi 34,15 triliun rubel (US$ 385 miliar) selama tahun 2023.

Sementara itu, dolar menyumbang 39,5% dari transaksi tersebut, turun dari 63% pada tahun 2022, karena volume perdagangan turun lebih dari sepertiganya menjadi 49,90 triliun rubel (US$ 560 miliar).

Pergeseran untuk mengurangi penggunaan greenback, yang dikenal sebagai dedolarisasi, mendapatkan momentum setelah Barat menjatuhkan sanksi berat terhadap Rusia menyusul invasi mereka ke Ukraina pada tahun 2022.

Baca Juga: Mengenal Blok BRICS yang Diprakarsasi Rusia dan 10 Negara Anggota BRICS 2024

Hal ini menutup akses Moskow terhadap sistem keuangan global, sehingga memaksa Moskow untuk lebih bergantung pada mata uang selain dolar dan euro. Pada bulan Desember, Kremlin mengatakan Rusia dan Tiongkok hampir sepenuhnya menghentikan penggunaan dolar dalam perdagangan bilateral.

Data yang dihimpun Coinmarketcap menunjukkan, volume perdagangan Yuan dengan Rusia meningkat tiga kali lipat karena sanksi yang mencapai US$ 385 miliar dalam perdagangan setahun. 

Pada saat yang sama, volume perdagangan dolar AS di Rusia mencapai US$ 560 miliar pada periode yang sama. Namun dolar AS masih bersaing dan tidak terlalu jauh dari Yuan China.

Rusia dan China adalah negara teratas di BRICS yang menggunakan Yuan China, dan bukan dolar AS. Kedua negara semakin maju dalam motif dedolarisasi mereka dan menargetkan untuk meningkatkan penggunaan mata uang lokal dengan melengserkan dolar AS.

Sementara itu, negara-negara seperti China, India, dan Iran juga telah mencoba menggunakan mata uang non-dolar untuk transaksi perdagangan dan pinjaman internasional untuk melemahkan pengaruh Barat terhadap perekonomian mereka.

Baca Juga: 30 Negara Menyatakan Minat untuk Bermitra dengan BRICS

China, khususnya, semakin agresif dalam upayanya menginternasionalkan yuan. Beijing telah menandatangani perjanjian pertukaran mata uang dan membagikan pinjaman dalam mata uang yuan.

Dan upaya dedolarisasinya tampaknya berhasil. Pada bulan November, yuan adalah mata uang keempat yang paling banyak digunakan dalam pembayaran global, dua kali lipat dari level pada tahun 2022 ke rekor 4,61%.

Financial Times melaporkan, pada bulan September, yuan juga menempati posisi kedua dalam pembiayaan perdagangan global, menggantikan euro. Hal ini terjadi karena suku bunga Beijing yang lebih rendah membuat pembiayaan perdagangan lebih terjangkau. ​

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie