KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Startup kecerdasan buatan asal China, DeepSeek, dikabarkan tengah bersiap melakukan penggalangan dana perdana (maiden fundraising) dengan valuasi yang berpotensi mencapai hingga US$50 miliar. Langkah ini menandai perubahan strategi signifikan setelah bertahun-tahun perusahaan tersebut menolak pendanaan eksternal. Berdasarkan sumber yang mengetahui pembahasan tersebut, dana kecerdasan buatan nasional China senilai 60 miliar yuan (sekitar US$8,8 miliar), yang dibentuk pada Januari tahun lalu, tengah dalam pembicaraan untuk menjadi investor utama dalam putaran pendanaan DeepSeek. Dana tersebut didukung oleh China Integrated Circuit Industry Investment Fund, yang dikenal sebagai salah satu pilar pembiayaan sektor teknologi strategis di China.
Dalam putaran pendanaan ini, DeepSeek diperkirakan dapat menghimpun dana sebesar US$3 miliar hingga US$4 miliar. Dana tersebut rencananya akan digunakan untuk memperkuat kapasitas komputasi perusahaan serta meningkatkan kesejahteraan karyawan.
Baca Juga: Iran Tinjau Proposal Baru AS, Sinyal Kesepakatan Akhiri Konflik Teluk Menguat Selain itu, raksasa teknologi China, Tencent Holdings, juga disebut-sebut tengah menjajaki peluang untuk berinvestasi di DeepSeek. Namun, baik DeepSeek, Tencent, maupun pihak dana investasi terkait belum memberikan komentar resmi terkait kabar ini. Sebelumnya, laporan Financial Times menyebutkan bahwa DeepSeek bisa meraih valuasi sekitar US$45 miliar dalam penggalangan dana perdananya.
Tertekan Persaingan Ketat
Langkah penggalangan dana ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan kompetisi di industri AI China. DeepSeek dilaporkan mulai tertinggal dari para pesaing domestik yang didukung pendanaan besar, mulai dari raksasa teknologi seperti ByteDance dan Alibaba, hingga startup seperti MiniMax dan Moonshot AI yang telah menggalang dana miliaran dolar dari pasar publik maupun privat. Pendiri DeepSeek, Liang Wenfeng, selama ini dikenal memiliki pendekatan unik dalam mengembangkan perusahaan. Ia lebih memilih mengoperasikan DeepSeek layaknya laboratorium riset, dengan pendanaan yang berasal dari hedge fund kuantitatif miliknya, High-Flyer, alih-alih mengandalkan konglomerasi teknologi atau penawaran saham perdana (IPO).
Baca Juga: Bursa Inggris Menguat Lebih dari 2%, Harapan Kesepakatan AS-Iran Tekan Harga Minyak Namun, strategi tersebut mulai menghadapi tantangan. Sejumlah pesaing bahkan berhasil merekrut talenta DeepSeek, termasuk peneliti Luo Fuli yang hengkang tahun lalu untuk memimpin tim model AI MiMo di Xiaomi.
Perubahan Arah Industri AI
Di sisi lain, lanskap industri AI berkembang sangat cepat. Model chatbot open-source berbiaya rendah yang sebelumnya menjadi keunggulan DeepSeek kini telah direplikasi oleh banyak pesaing. Industri pun mulai beralih ke pengembangan “agent AI” yang mampu menjalankan tugas kompleks dengan intervensi manusia yang lebih minim, meski membutuhkan daya komputasi jauh lebih besar. DeepSeek mengklaim model generasi terbarunya, V4, telah menetapkan standar baru untuk model open-source. Namun, evaluasi pihak ketiga menunjukkan performanya masih tertinggal dibanding model terbaik dari sejumlah pesaing di China maupun Amerika Serikat. Selain itu, peluncuran V4 tidak lagi memicu gejolak pasar global seperti yang terjadi pada model sebelumnya, V3 dan R1, yang sempat mengguncang saham teknologi dunia.