Rahasia DeepSeek Sukses Tanpa Chip Amerika, Terbongkar!



KONTAN.CO.ID - Persaingan AI di tahun 2026 bukan lagi sekadar soal siapa yang paling pintar, melainkan soal efisiensi biaya vs ekosistem premium. Di satu sisi, OpenAI tetap menjadi standar emas industri, namun di sisi lain, DeepSeek dari China terus mendobrak dengan efisiensi yang ekstrem.

Sebelum mendalami manuver terbaru DeepSeek yang kontroversial, berikut ringkasan cepat posisi kedua raksasa ini:

Fitur Utama DeepSeek (The Efficiency King) OpenAI (The Gold Standard)
Model Flagship DeepSeek-V3 / R1 / V4 (Upcoming) GPT-4o / o1-series
Aksesibilitas Open-weights (Bisa di-host mandiri) Closed-source (Proprietary)
Efisiensi Biaya Sangat Murah. Hingga 1/10 harga kompetitor Premium. Fokus pada fitur Enterprise
Kekuatan Utama Logika matematika & coding tajam Multimodalitas & pemahaman nuansa
Paling Cocok Untuk Developer & Penghematan Budget Korporasi & Alur kerja kreatif
Sumber: Riset KONTAN


Laboratorium kecerdasan buatan asal China, DeepSeek, kembali menjadi sorotan. Setelah model berbiaya rendahnya sempat mengguncang pasar global tahun lalu, perusahaan ini kini mengambil langkah tak biasa menjelang peluncuran model flagship terbarunya, V4.

Menurut dua sumber Reuters yang mengetahui persoalan tersebut, DeepSeek tidak memberikan akses awal kepada produsen chip Amerika Serikat untuk mengoptimalkan performa model barunya.

Padahal, dalam praktik industri AI, pengembang umumnya membagikan versi pra-rilis ke raksasa chip seperti Nvidia dan Advanced Micro Devices (AMD) agar perangkat lunak bisa berjalan maksimal di hardware yang banyak digunakan secara global.

Sebaliknya, DeepSeek justru memberikan akses lebih dulu kepada pemasok domestik China, termasuk Huawei Technologies. Sumber menyebut, produsen chip China mendapat keunggulan waktu beberapa pekan untuk mengoptimalkan perangkat lunak V4 pada prosesor mereka.

Langkah ini menandai perubahan sikap, mengingat sebelumnya DeepSeek diketahui bekerja cukup dekat dengan tim teknis Nvidia.

Baik Nvidia maupun AMD menolak berkomentar. DeepSeek dan Huawei juga belum memberikan tanggapan resmi.

Baca Juga: EIA: Persediaan Minyak Mentah AS Naik Pada Pekan Lalu, Stok Bensin Turun

Dampaknya ke Nvidia dan AMD?

Ben Bajarin, CEO firma riset Creative Strategies, menilai dampaknya terhadap Nvidia dan AMD relatif terbatas. Ia menyebut sebagian besar perusahaan belum menjadikan DeepSeek sebagai model utama, melainkan lebih sebagai tolok ukur (benchmark).

Selain itu, perkembangan tools AI terbaru membuat proses penyesuaian software dengan hardware kini jauh lebih cepat, dari yang sebelumnya memakan waktu berbulan-bulan menjadi hanya beberapa pekan.

Namun, di balik keputusan ini, ada dimensi geopolitik yang lebih besar. Bajarin menilai langkah tersebut bisa menjadi bagian dari strategi pemerintah China untuk mengurangi ketergantungan pada hardware dan model asal AS.

Kontroversi makin menguat setelah seorang pejabat senior pemerintahan Presiden Donald Trump mengatakan kepada Reuters bahwa model terbaru DeepSeek dilatih menggunakan chip AI paling canggih Nvidia, yaitu Blackwell, melalui klaster komputasi di China daratan, yang berpotensi melanggar pembatasan ekspor AS.

Pejabat tersebut juga menduga DeepSeek mungkin akan menghapus jejak teknis penggunaan chip Amerika dan mengklaim secara publik bahwa pelatihan model dilakukan menggunakan chip Huawei.

Baca Juga: IIF: Belanja Pemerintah Mengerek Utang Global Menjadi US$ 348 Triliun pada 2025