KONTAN.CO.ID -Â WASHINGTON. Defisit anggaran pemerintah federal Amerika Serikat (AS) kembali membengkak. Pada Juli 2026, defisit mencapai US$ 432 miliar, menjadi rekor tertinggi untuk bulan Juli dan melonjak 48% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Melansir laporan
Reuters (13/8), lonjakan belanja pemerintah serta pembengkakan pembayaran tunjangan menjadi faktor utama kenaikan defisit. Departemen Keuangan AS mencatat belanja Juli mencapai US$ 766 miliar, naik 22% secara tahunan. Sebagian kenaikan tersebut dipengaruhi faktor kalender. Pemerintah membayarkan sejumlah tunjangan yang seharusnya jatuh tempo pada Agustus lebih awal pada Juli karena awal Agustus bertepatan dengan akhir pekan.
Setelah memperhitungkan pergeseran kalender, defisit Juli tercatat sebesar US$ 333 miliar, masih naik 18% dibandingkan Juli 2025. Di sisi lain, penerimaan pemerintah justru melemah. Penerimaan Juli turun 1% menjadi US$ 334 miliar. Salah satu tekanan datang dari penerimaan bea masuk yang kembali mencatat arus keluar. Pemerintah AS mengembalikan dana tarif sebesar US$ 33,38 miliar sepanjang Juli, sehingga penerimaan bea masuk bersih mencatat arus keluar US$ 8,55 miliar. Ini menjadi bulan ketiga berturut-turut penerimaan tarif mengalami arus keluar bersih.
Baca Juga: Ekonomi Inggris Kembali Tumbuh 0,3% di Juni, Setelah Sempat Stagnan di Mei Pengembalian dana tersebut berkaitan dengan keputusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sejumlah tarif darurat yang sebelumnya diberlakukan pemerintahan Presiden Donald Trump. Hingga akhir Juli, Badan Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS telah memproses pengembalian sekitar US$ 100 miliar. Meski demikian, pemerintahan Trump masih berupaya membangun kembali kebijakan tarif melalui jalur hukum lain. Pemerintah pada bulan lalu mengenakan tarif 10% hingga 12,5% terhadap 60 mitra dagang utama yang mencakup lebih dari 99% impor AS. Kebijakan tarif baru juga diperkirakan terus bertambah dalam beberapa pekan mendatang. Namun, prospek penerimaan dari tarif kini semakin tidak pasti. Kantor Anggaran Kongres AS memperkirakan penerimaan bea masuk sepanjang tahun fiskal akan sekitar US$ 250 miliar lebih rendah dibandingkan proyeksi awal pada Februari.
Kondisi tersebut membuat ruang fiskal pemerintah AS semakin tertekan. Dalam 10 bulan pertama tahun fiskal 2026, defisit anggaran telah mencapai US$ 1,799 triliun, melampaui defisit sepanjang tahun fiskal 2025 yang sebesar US$ 1,775 triliun. Secara tahunan, defisit kumulatif tersebut naik US$ 170 miliar atau 10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Setelah memperhitungkan faktor kalender, defisit tahun fiskal berjalan diperkirakan mencapai US$ 1,700 triliun atau naik 5% secara tahunan. Dengan tahun fiskal AS yang akan berakhir pada 30 September, pembengkakan defisit dalam dua bulan terakhir menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah. Harapan menjadikan tarif sebagai salah satu sumber penerimaan untuk menahan pelebaran defisit pun kini menghadapi tekanan, terutama setelah besarnya pengembalian dana tarif dan ketidakpastian dasar hukum kebijakan tersebut.
Baca Juga: Bursa Australia Ditutup Turun Kamis (13/8), Saham Tambang dan CBA Jadi Beban