Defisit APBN 2026 Risiko Bengkak Akibat Harga Minyak, Ini Saran Solusi Pemerintah
Jumat, 03 April 2026 11:41 WIB
Oleh: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Paket kebijakan pemerintah Indonesia dalam menghadapi lonjakan harga minyak dunia dinilai berpotensi menekan kesehatan fiskal. Salah satu kekhawatiran utama adalah kebijakan menahan harga BBM yang bisa menyebabkan defisit anggaran melampaui batas 3% dari produk domestik bruto (PDB). Kajian terbaru dari GREAT Institute melalui simulasi lima skenario menunjukkan bahwa efektivitas kebijakan sangat bergantung pada durasi dan kedalaman konflik global yang memicu gangguan energi. Jika tekanan berlangsung lama, defisit APBN 2026 berisiko menembus batas psikologis sekaligus batas hukum fiskal. Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Yossi Martino, menyebut langkah awal pemerintah sudah tepat, tetapi belum cukup untuk menghadapi risiko jangka panjang.
“Pemerintah sudah mengambil langkah awal yang penting. Namun ini baru fase pertama. Jika tekanan global berlanjut, pertanyaannya bukan lagi soal tindakan, tetapi apakah respons saat ini masih cukup menjaga APBN, stabilitas harga, dan kepercayaan pasar,” ujar Yossi dalam keterangan resmi, Kamis 2 April 2026. Ia menilai Indonesia memasuki 2026 dengan bantalan fiskal yang terbatas, sementara ketergantungan terhadap impor energi masih tinggi. Kondisi ini membuat gejolak harga minyak dunia cepat berdampak pada fiskal, inflasi, dan daya beli masyarakat. Menurutnya, ketahanan energi harus dipandang sebagai bagian dari kedaulatan ekonomi, bukan sekadar isu pasokan jangka pendek. Baca Juga: Ekonom Ingatkan Risiko Defisit Jika Harga BBM Terus Ditahan Simulasi Risiko: Defisit Bisa Tembus 4,3% PDB Model simulasi GREAT Institute menggunakan pendekatan quadruple shocks, yaitu kombinasi kenaikan harga minyak, pelemahan rupiah, lonjakan imbal hasil obligasi, dan perlambatan ekonomi. Hasilnya menunjukkan: - Skenario 1: Harga minyak USD 93–97 per barel → defisit 3,25–3,55% PDB - Skenario 2: Harga minyak USD 95–105 per barel → defisit 3,40–3,80% PDB - Skenario 3: Harga minyak USD 105–120 per barel → defisit 3,80–4,30% PDB Peneliti GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, menjelaskan bahwa tiap skenario membutuhkan respons kebijakan berbeda. Strategi Kebijakan: Dari Efisiensi hingga Kenaikan BBM Pada skenario ringan hingga menengah, pemerintah masih bisa mengandalkan: - Disiplin fiskal dan efisiensi belanja - Reprioritisasi anggaran - Kebijakan Work From Anywhere (WFA) ASN - Pengendalian program MBG (Makan Bergizi Gratis) Penghematan anggaran diperkirakan: - Skenario 1: hingga Rp43,3 triliun - Skenario 2: hingga Rp68 triliun Namun pada skenario berat, langkah administratif tidak lagi cukup. “Pada skenario ketiga, kenaikan harga BBM subsidi menjadi opsi yang sulit dihindari,” kata Adrian. Simulasi menunjukkan: - Kenaikan Pertalite Rp1.000/liter dan Solar Rp500/liter - Potensi penghematan Rp25,5–30,9 triliun - Kebutuhan efisiensi total mencapai Rp125–130 triliun Langkah ini harus disertai kompensasi sosial bagi kelompok rentan. Tiga Satgas untuk Menjaga Kredibilitas Fiskal GREAT Institute merekomendasikan pembentukan tiga satuan tugas: 1. Satgas Reformasi Utang 2. Satgas Reformasi Penerimaan Negara 3. Satgas Credit Rating Satgas credit rating dinilai krusial untuk menjaga kepercayaan investor, terutama jika defisit melewati 3% PDB. Pemerintah juga perlu menyiapkan: - Strategi peningkatan penerimaan negara - Pengelolaan utang jangka menengah - Peta jalan konsolidasi fiskal yang kredibel Reformasi Energi Jadi Kunci Jangka Panjang Dalam jangka panjang, kebijakan fiskal harus terintegrasi dengan strategi ketahanan energi, meliputi: - Penguatan cadangan energi (storage) - Reformasi subsidi energi - Pengembangan biofuel - Diversifikasi energi primer - Pengendalian konsumsi energi
Konflik geopolitik global menjadi pengingat bahwa ketergantungan impor energi dan ruang fiskal yang sempit adalah kombinasi berisiko. Karena itu, respons terhadap krisis saat ini harus sekaligus menjadi fondasi reformasi struktural agar Indonesia lebih tahan terhadap guncangan global di masa depan.