KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah bersama DPR RI telah menyepakati postur Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027, dengan defisit anggaran dipatok sebesar Rp 671,2 triliun atau setara 2,40% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini turun cukup signifikan dibandingkan
outlook defisit tahun 2026 yang diperkirakan mencapai Rp 734,3 triliun atau 2,85% terhadap PDB. Head of Indonesia Equity Research JP Morgan Indonesia, Benny Kurniawan, menilai penurunan defisit tersebut secara umum disambut positif oleh pelaku pasar. Namun ia mengingatkan, investor biasanya tidak hanya melihat angka defisit secara sepintas, melainkan menelusuri lebih dalam faktor pendorong di baliknya.
Baca Juga: Laba PTBA Melonjak 218%, Tapi Target Harga Saham Masih Ditinjau Analis Menurut Benny, penurunan defisit RAPBN 2027 tersebut lebih banyak didorong oleh penurunan total belanja pemerintah. Ia memandang kondisi ini sebagai sinyal positif, karena mencerminkan sikap pemerintah yang semakin berhati-hati atau
prudent dalam mengatur pengeluaran negara. "Sebenarnya menunjukkan bahwa pemerintah itu lebih
prudent di
spending. Yang sebenarnya lebih bagus," kata Benny di Jakarta, Kamis (3/9/2026). Di sisi lain, Benny menambahkan, pelaku pasar modal juga akan mencermati asumsi penerimaan negara atau
revenue assumption yang digunakan pemerintah dalam menyusun RAPBN 2027. Ia menekankan pentingnya asumsi tersebut disusun secara realistis dan tidak terlalu agresif. Pasalnya, jika asumsi penerimaan negara terlalu agresif, dikhawatirkan pemerintah akan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang justru kurang mendukung pertumbuhan di sejumlah sektor ekonomi demi mengejar target penerimaan tersebut. "Kalau terlalu agresif nanti takutnya bisa jadi ada
policy-policy yang kurang baik untuk pertumbuhan di beberapa sektor ekonomi," ungkap Benny. Secara keseluruhan, dari postur RAPBN 2027 yang telah disepakati, Benny menilai pemerintah cukup
prudent dalam menyusun kebijakan fiskalnya. Meski demikian, ia mencatat bahwa nota keuangan RAPBN 2027 secara lengkap belum dirilis, sehingga penilaian yang ada saat ini masih bersifat awal.
Baca Juga: Saham Oxala Energi (PIPA) dan Global Digital (BELI) Diawasi Bursa, Simak Prospeknya "Karena kita belum lihat nota keuangannya secara keseluruhan, dari apa yang kita lihat, harusnya secara objektif pelaku pasar modal cukup puas dengan postur yang sudah ada," jelas Benny. Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama juga menyampaikan defisit tersebut cukup positif bagi pasar karena memberikan sinyal bahwa pemerintah tetap menjaga disiplin fiskal di tengah kebutuhan belanja yang masih besar. Bagi investor asing, defisit yang lebih terkendali dapat membantu menjaga persepsi risiko Indonesia, stabilitas rupiah, serta menahan tekanan terhadap
yield SBN. Namun dampaknya terhadap IHSG kemungkinan tidak langsung besar karena
capital flow asing tetap akan sangat dipengaruhi oleh arah suku bunga global, rupiah, valuasi saham, dan pertumbuhan laba emiten. "Jadi pasar lebih melihat konsistensi implementasinya, bukan hanya target defisitnya. RAPBN 2027 sendiri menetapkan defisit sekitar Rp671,2 triliun atau 2,4% PDB, lebih rendah dibanding
outlook 2026 sebesar 2,85%," ujar Elandry. Selain angka defisit, investor perlu mencermati kualitas penerimaan negara, komposisi belanja, keseimbangan primer, serta kebutuhan pembiayaan utang. Ini penting karena RAPBN 2027 masih merencanakan belanja sekitar Rp4.097 triliun dan beban bunga utang sekitar Rp650 triliun, sehingga kemampuan pemerintah meningkatkan penerimaan sekaligus menjaga belanja produktif akan menentukan ruang fiskal ke depan. Kebutuhan penerbitan SBN juga perlu diperhatikan karena
supply obligasi yang tinggi dapat mempengaruhi
yield dan
liquidity di pasar keuangan. Asumsi pertumbuhan ekonomi 6%, rupiah Rp17.500 per dolar AS dan yield SBN 10 tahun 6,9% juga menjadi parameter penting untuk melihat realistis atau tidaknya postur fiskal tersebut.
Untuk jangka panjang, Elandry masih melihat sektor perbankan cukup menarik karena akan menjadi salah satu penerima manfaat utama apabila disiplin fiskal mampu menjaga stabilitas makro, menurunkan
risk premium dan memperbaiki
risk appetite investor. Saham seperti BBCA, BMRI, BBRI dan BBNI masih layak dicermati. Selain itu, sektor
consumer seperti ICBP serta sektor infrastruktur dan telekomunikasi seperti JSMR dan TLKM juga menarik apabila belanja pemerintah dan aktivitas ekonomi domestik tetap ekspansif. "Secara umum kami lebih menyukai perusahaan dengan neraca kuat,
cash flow sehat dan
earnings visibility yang baik karena
market sentiment terhadap RAPBN pada akhirnya tetap harus dikonfirmasi oleh pertumbuhan ekonomi dan kinerja korporasi," tutup Elandry. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News