KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Defisit perdagangan Amerika Serikat (AS) melonjak tajam pada Mei 2026 di tengah lonjakan impor barang modal yang mencapai rekor tertinggi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa sektor perdagangan masih akan menjadi penekan pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II-2026, meski aktivitas investasi dan konsumsi domestik tetap menunjukkan daya tahan. Berdasarkan data Departemen Perdagangan AS, defisit perdagangan meningkat 42,2% menjadi US$ 77,6 miliar pada Mei, level tertinggi sejak Maret 2025. Angka tersebut lebih besar dibandingkan perkiraan ekonom yang disurvei
Reuters sebesar US$ 78,5 miliar. Pelebaran defisit dipicu kenaikan impor sebesar 3,3% menjadi US$ 395,3 miliar, tertinggi dalam 14 bulan. Sementara itu, ekspor justru turun 3,2% menjadi US$ 317,7 miliar akibat penguatan dolar AS yang membuat produk-produk AS semakin mahal di pasar internasional.
Kenaikan impor tidak hanya dipengaruhi oleh kuatnya permintaan domestik, tetapi juga langkah perusahaan yang mempercepat pembelian untuk mengantisipasi gangguan pasokan dan potensi kenaikan harga akibat konflik di Timur Tengah serta kemungkinan penerapan tarif baru oleh pemerintah AS. Selain itu, perang AS-Israel dengan Iran turut mendorong ekspor minyak mentah dan produk minyak bumi hingga mencapai rekor tertinggi. Konflik tersebut juga sempat mengganggu aktivitas di Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia, sehingga meningkatkan risiko geopolitik di pasar energi. Permintaan domestik tinggi Ekonom Pasar Keuangan Nationwide Oren Klachkin menilai , ingginya impor justru mencerminkan permintaan domestik AS yang masih kuat. "Impor menunjukkan permintaan domestik AS tetap solid, meski penumpukan persediaan kemungkinan turut berkontribusi. Investasi kecerdasan buatan (AI) juga masih berada pada jalur yang sangat kuat," ujarnya dalam laporan
Reuters (7/7). Lonjakan impor terutama berasal dari barang modal yang naik US$ 1,1 miliar menjadi rekor US$ 128 miliar. Kenaikan tersebut didorong oleh meningkatnya impor aksesori komputer, semikonduktor, pesawat sipil, generator, serta mesin industri. Besarnya impor barang modal mencerminkan derasnya investasi perusahaan di sektor AI yang masih bergantung pada komponen impor. Namun, setelah disesuaikan dengan inflasi, nilai impor barang modal justru turun menjadi US$ 108,7 miliar dari US$ 110,5 miliar pada April. Ekonom Citigroup Veronica Clark menilai, investasi AI masih akan menopang aktivitas ekonomi, tetapi kontribusinya terhadap pertumbuhan kemungkinan tidak sebesar beberapa kuartal sebelumnya. "Impor komputer dan peralatan terkait mulai melambat pada data kuartal II sehingga dorongan AI terhadap pertumbuhan PDB kemungkinan lebih kecil dibandingkan beberapa kuartal terakhir," katanya. Selain barang modal, impor barang konsumsi juga meningkat US$ 3,5 miliar, terutama untuk produk farmasi, telepon seluler, dan berbagai kebutuhan rumah tangga. Impor kendaraan bermotor beserta suku cadangnya juga naik US$ 2,2 miliar. Di sisi lain, penurunan ekspor terjadi hampir di seluruh kelompok barang. Ekspor barang modal turun US$ 3,5 miliar akibat melemahnya pengiriman komputer dan aksesori komputer. Ekspor barang konsumsi juga menurun seiring berkurangnya pengiriman produk farmasi. Meski demikian, ekspor minyak mentah meningkat US$ 2 miliar sehingga ekspor produk minyak bumi mencapai rekor US$ 38,4 miliar. AS sendiri masih berstatus sebagai eksportir bersih minyak.
Pelebaran defisit perdagangan diperkirakan kembali menjadi beban bagi pertumbuhan ekonomi AS. Model proyeksi Federal Reserve Atlanta memperkirakan ekonomi AS hanya tumbuh 1,4% secara tahunan pada kuartal II-2026, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 2,1% pada kuartal pertama.
Chief Economic Advisor Brean Capital John Ryding memperkirakan pelebaran defisit perdagangan akan memangkas sekitar 1,7 poin persentase terhadap pertumbuhan riil PDB AS pada kuartal II. Di tengah kebijakan tarif Presiden Donald Trump, AS masih mencatat defisit perdagangan barang dengan sejumlah mitra dagang utama, seperti Vietnam, Meksiko, Taiwan, China, Kanada, Jerman, Korea Selatan, India, dan Irlandia. Sebaliknya, surplus perdagangan barang tercatat dengan Belanda, Hong Kong, Australia, Inggris, dan Brasil. Sementara itu, neraca perdagangan jasa masih mencatat surplus yang meningkat menjadi US$ 28,9 miliar dari US$ 28,3 miliar pada April. Kenaikan tersebut ditopang oleh rekor ekspor jasa sebesar US$ 107,1 miliar, terutama dari sektor perjalanan.