KONTAN.CO.ID - LONDON. Kondisi fiskal Inggris menghasilkan defisit yang lebih besar dari perkiraan. Defisit fiskal Inggris di April mencapai £ 24,3 miliar, sekitar Rp 5.779,11 triliun.
Reuters melaporkan, realisasi tersebut merupakan defisit tertinggi kedua untuk periode April dalam sejarah, menurut angka resmi yang dirilis pemerintah Inggris, Jumat (22/5/2026). Konsensus proyeksi ekonom memprediksi defisit Inggris di periode tersebut cuma sebesar £ 20,9 miliar.
Baca Juga: Trump Mengaku “Dibujuk” Raja dan Ratu: Tarif Whiskey Inggris Akhirnya Dicabt Menteri Keuangan Inggris Rachel Reeves mengatakan, ia akan tetap berpegang pada targetnya untuk menyeimbangkan pengeluaran sehari-hari dengan pendapatan pajak pada akhir dekade ini. Reeves saat ini tengah menghadapi tekanan membantu membalikkan posisi Partai Buruh yang rendah dalam jajak pendapat. Kondisi ini dapat memaksa Perdana Menteri Keir Starmer keluar dari jabatannya. Perang Iran telah membuat tantangan semakin sulit. Perang meningkatkan risiko perlambatan ekonomi, yang akan merugikan pendapatan pajak.
Baca Juga: Penjualan Ritel Inggris Anjlok Terparah Sejak Mei 2025, Ada Apa? Perang juga telah menambah tuntutan pada Reeves untuk pengeluaran publik yang lebih besar guna melindungi rumah tangga dan bisnis dari guncangan harga energi yang disebabkan oleh konflik tersebut. Sebelumnya, pada Kamis (21/5/2026), Reeves mengatakan, ia akan menaikkan pajak dari perusahaan minyak dan gas untuk mendanai langkah-langkah dukungan. Data Jumat yang dirilis Inggris menunjukkan penerimaan pemerintah naik 2,9% pada April, dibandingkan bulan yang sama di 2025. Sementara pengeluaran naik 6,5%.
Baca Juga: Starbucks Hentikan Program AI Penghitung Inventaris Setelah 9 Bulan Digunakan Para ekonom bidang anggaran Inggris mengatakan awal Maret lalu, mereka memperkirakan pinjaman sektor publik akan menyusut menjadi 3,6% dari produk domestik bruto pada tahun pajak 2026-2027. Itu akan menjadi defisit terkecil sejak sebelum pandemi COVID-19.
Reuters memberitakan, mengutip Office for National Statistics (ONS) Inggris, pinjaman pada tahun fiskal yang berakhir Maret lalu lebih rendah £ 3 miliar dari perkiraan awal sebesar £ 129 miliar. Ini setara 4,2% dari PDB, turun dari 5,2% pada tahun pajak 2024/25. Investor juga khawatir tentang kemungkinan perubahan kepemimpinan politik di Inggris, dengan banyak anggota parlemen Partai Buruh menuntut agar Starmer mundur. Penerus yang paling mungkin, walikota Manchester Andy Burnham, mengatakan ia akan tetap berpegang pada aturan fiskal yang diterapkan oleh Reeves.