Defisit Neraca Dagang Diprediksi Hanya Sementara, Ekonom: Ada Peluang Kembali Surplus



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 diperkirakan hanya bersifat sementara, dan berpeluang kembali mencatat surplus pada periode berikutnya, meski tren ke depan nilainya diproyeksikan semakin menyempit.

Head of Macroeconomic and Financial Market Research PermataBank, Faisal Rachman mengatakan, neraca perdagangan Indonesia yang berbalik ke zona defisit sebesar US$ 1,16 miliar pada Mei 2026, setelah sebelumnya surplus tipis US$ 89,1 juta pada April 2026 disebabkan laju impor yang tetap kuat dan melampaui pertumbuhan ekspor.

Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan Januari–Mei 2026 juga menyusut tajam menjadi US$ 4,03 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan US$ 15,38 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.


Baca Juga: Dukung Program 3 Juta Rumah, Target KUR Perumahan Naik Jadi Rp 50 Triliun

“Perubahan ini didorong oleh pertumbuhan impor yang tetap kuat dan melampaui pertumbuhan ekspor,” ujar Faisal, Rabu (1/7/2026).

Ia menjelaskan, impor pada Mei 2026 tumbuh 22,16% secara tahunan (yoy), didorong kuat oleh kebutuhan bahan baku industri, barang modal, serta lonjakan impor migas akibat kenaikan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Seluruh kelompok impor tercatat meningkat, terutama mesin mekanik, mesin dan peralatan listrik, serta plastik.

Di sisi lain, ekspor justru terkontraksi 5,73% yoy, berbalik tajam dari pertumbuhan bulan sebelumnya. Penurunan terjadi merata di sektor pertanian, pertambangan, dan manufaktur, dengan tekanan terbesar pada ekspor emas, bijih logam mulia, besi dan baja, serta CPO.

Meski demikian, Faisal menilai defisit pada Mei 2026 bukan sinyal pelemahan struktural. Lonjakan harga minyak dunia disebut sebagai faktor utama, yang diperkirakan mereda seiring koreksi harga pada Juni 2026.

Baca Juga: Ekonom Prediksi Tekanan Inflasi Lebih Tinggi pada Semester II 2026, Ini Pemicunya

"Dengan demikian, kami memperkirakan Indonesia akan kembali mencatat surplus perdagangan, meskipun dengan tren yang semakin menyempit. Berdasarkan proyeksi tersebut, kami tetap mempertahankan perkiraan bahwa defisit transaksi berjalan akan melebar pada tahun ini," ujarnya.

Ia menambahkan, tekanan terhadap neraca dagang masih akan berlanjut pada semester II 2026 seiring impor yang tetap kuat ditopang kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan, sementara ekspor cenderung melambat akibat normalisasi permintaan global, terutama dari China.

Dari sisi eksternal, ketidakpastian geopolitik dan dinamika perang dagang global masih menjadi faktor penahan kinerja ekspor Indonesia. Meski risiko di Timur Tengah mulai mereda, Faisal menilai kondisi global masih rentan dan dapat mengganggu rantai pasok serta perdagangan internasional.

"Ketidakpastian terkait perang dagang global juga masih membayangi prospek ekonomi. Akibatnya, gangguan terhadap rantai pasok global diperkirakan masih akan berlanjut dan membatasi aktivitas perdagangan internasional serta permintaan eksternal," ujarnya.

Di sisi komoditas, harga energi diperkirakan melemah pada semester II 2026, namun harga CPO berpotensi tetap tinggi akibat risiko gangguan produksi terkait El Nino yang dapat membatasi produksi dan mengimbangi sebagian tekanan penurunan harga.

Faisal juga mempertahankan proyeksi defisit transaksi berjalan Indonesia akan melebar menjadi 1,07% dari PDB pada 2026, dari 0,11% pada 2025, seiring tekanan eksternal yang masih berlangsung. Namun ia menilai arus modal asing berpotensi membaik pada semester II 2026, yang dapat menopang neraca transaksi finansial dan menjaga stabilitas eksternal.

Dalam kondisi tersebut, Bank Indonesia diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang berfokus pada stabilitas, termasuk menjaga BI-Rate relatif stabil sepanjang 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News