KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Inflasi yang melonjak, penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur serta defisit neraca perdagangan diperkirakan akan berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi. Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia mencetak defisit US$ 1,61 miliar pada Mei 2026 (dibanding Mei 2025 yang surplus US$ 4,3 miliar, maupun April 2026 yang surplus US$ 89,1 juta. Catatan ini di luar ekspektasi konsensus yang memperkirakan surplus US$ 1,01 miliar, menandai defisit neraca perdagangan pertama sejak April 2020 sekaligus defisit terbesar sejak April 2019. Selain itu, secara tahunan atau year on year (yoy), inflasi Juni 2026 tercatat sebesar 3,34%, meningkat dari 3,08% pada Mei 2026.
Defisit Neraca Dagang Diproyeksi Berdampak Negatif pada Pertumbuhan Ekonomi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Inflasi yang melonjak, penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur serta defisit neraca perdagangan diperkirakan akan berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi. Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia mencetak defisit US$ 1,61 miliar pada Mei 2026 (dibanding Mei 2025 yang surplus US$ 4,3 miliar, maupun April 2026 yang surplus US$ 89,1 juta. Catatan ini di luar ekspektasi konsensus yang memperkirakan surplus US$ 1,01 miliar, menandai defisit neraca perdagangan pertama sejak April 2020 sekaligus defisit terbesar sejak April 2019. Selain itu, secara tahunan atau year on year (yoy), inflasi Juni 2026 tercatat sebesar 3,34%, meningkat dari 3,08% pada Mei 2026.
TAG: