KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Defisit transaksi berjalan alias
current account deficit (CAD) Indonesia melebar signifikan pada kuartal II 2026. Kondisi ini dinilai dapat meningkatkan kebutuhan pembiayaan eksternal dan mempersempit ruang Bank Indonesia (BI) untuk melakukan pelonggaran moneter secara agresif. Bank Indonesia mencatat CAD Indonesia mencapai US$ 12,49 miliar pada kuartal II 2026, setara 3,3% dari produk domestik bruto (PDB).
Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai pelebaran CAD tersebut memperkuat alasan bagi BI untuk mempertahankan kebijakan yang berorientasi pada stabilitas dalam jangka pendek.
Baca Juga: Prabowo Buka Peluang Usut dan Tindak Korporasi yang Terbukti Sengaja Bakar Lahan "Ke depan, kami memperkirakan CAD akan tetap berada di bawah tekanan karena harga minyak berpotensi terus tinggi, pertumbuhan impor tetap solid, dan penerimaan ekspor berada di bawah tekanan akibat perlambatan pertumbuhan ekonomi global," ujar Harry saat dikonfirmasi Kontan, Minggu (23/8/2026). Menurut Harry, tekanan terhadap transaksi berjalan berpotensi berlanjut seiring potensi kenaikan harga minyak mentah dunia dan peningkatan impor. Ia juga memperkirakan ekspor komoditas Indonesia ke China akan melemah. Di sisi lain, impor Indonesia berpotensi meningkat karena masuknya produk-produk murah dari China. Selain itu, depresiasi yuan China sebagai upaya untuk mendorong ekspor negara tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap mata uang regional, termasuk rupiah. Kondisi tersebut dapat mengurangi penguatan rupiah yang saat ini turut ditopang oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS). Samuel Sekuritas menilai pelebaran CAD terutama disebabkan oleh penurunan tajam surplus neraca barang. Surplus barang Indonesia turun menjadi hanya US$1,32 miliar pada kuartal II 2026, dari US$10,52 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut mencerminkan permintaan domestik yang masih tangguh sekaligus meningkatnya biaya impor energi di tengah risiko geopolitik yang meningkat di Timur Tengah. Kondisi ini sejalan dengan data neraca nasional kuartal II 2026. Ekspor riil barang dan jasa tumbuh 4,13% yoy, sedangkan impor tumbuh jauh lebih cepat, yakni 8,82% yoy.
Baca Juga: Tangani Karhutla, Prabowo Kerahkan 17 Helikopter Water Bombing dan 1.500 Prajurit TNI "Sebagian dari percepatan impor mencerminkan aktivitas dan investasi domestik yang sehat. Namun, impor yang tumbuh lebih dari dua kali lebih cepat daripada ekspor menunjukkan bahwa neraca eksternal menjadi kurang mendukung," jelas Harry. Tekanan terhadap transaksi berjalan juga terlihat pada neraca jasa. Defisit jasa melebar menjadi US$5,98 miliar dari US$5,30 miliar pada kuartal II 2025. Sementara itu, defisit pendapatan primer masih berada pada level tinggi, yakni US$9,67 miliar. Dengan defisit transaksi berjalan sebesar US$4,01 miliar pada kuartal I 2026, akumulasi CAD sepanjang semester I 2026 mencapai sekitar US$16,5 miliar. Di tengah pelebaran defisit tersebut, arus masuk portofolio asing sebesar US$8,5 miliar pada kuartal II 2026 memberikan penyangga penting bagi pembiayaan eksternal Indonesia. Namun, Harry menilai ketergantungan yang lebih besar terhadap arus modal portofolio juga meningkatkan sensitivitas Indonesia terhadap perubahan sentimen dan selera risiko investor global.
"Dari perspektif pasar, kami melihat data tersebut sebagai dampak negatif moderat bagi rupiah dan sedikit bearish untuk jangka panjang kurva obligasi pemerintah," kata Harry. Dengan demikian, pelebaran CAD menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan BI dalam menentukan arah kebijakan moneter ke depan, terutama di tengah kebutuhan menjaga stabilitas rupiah dan pembiayaan eksternal Indonesia.
Baca Juga: Karhutla Kalteng Tembus 7.634 Hektare, Pemerintah Kerahkan Empat Helikopter Pemadam Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News