KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Defisit neraca perdagangan diperkirakan kembali berlanjut karena harga minyak mentah global yang sempat melonjak. Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit perdagangan Indonesia menyempit menjadi US$ 450 juta pada Juni 2026 (dibandingkan US$ 1,6 miliar pada Mei 2026), seiring ekspor tumbuh 9,7% secara month on month (MoM) menjadi US$ 25,5 miliar, melampaui kenaikan impor sebesar 4,4% MoM menjadi US$ 25,9 miliar. Analis Mirae Asset Sekuritas, Novani Karina Saputri melihat penyempitan defisit neraca perdagangan mencerminkan pemulihan ekspor secara bulanan, bukan penguatan struktural neraca eksternal. Karena posisi perdagangan berbalik tajam dari surplus US$ 4,1 miliar pada Juni 2025, dengan pertumbuhan impor sebesar 34,3% secara year on year (yoy) jauh melampaui pertumbuhan ekspor sebesar 9,0% yoy.
Defisit Neraca Perdagangan Diperkirakan Berlanjut, Ini Alasannya
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Defisit neraca perdagangan diperkirakan kembali berlanjut karena harga minyak mentah global yang sempat melonjak. Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit perdagangan Indonesia menyempit menjadi US$ 450 juta pada Juni 2026 (dibandingkan US$ 1,6 miliar pada Mei 2026), seiring ekspor tumbuh 9,7% secara month on month (MoM) menjadi US$ 25,5 miliar, melampaui kenaikan impor sebesar 4,4% MoM menjadi US$ 25,9 miliar. Analis Mirae Asset Sekuritas, Novani Karina Saputri melihat penyempitan defisit neraca perdagangan mencerminkan pemulihan ekspor secara bulanan, bukan penguatan struktural neraca eksternal. Karena posisi perdagangan berbalik tajam dari surplus US$ 4,1 miliar pada Juni 2025, dengan pertumbuhan impor sebesar 34,3% secara year on year (yoy) jauh melampaui pertumbuhan ekspor sebesar 9,0% yoy.
TAG: