Defisit Neraca Transaksi Berjalan Diprediksi Melebar Tembus 3% PDB di Akhir 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Defisit neraca transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) diperkirakan melebar pada akhir tahun 2026.

Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman memperkirakan, defisit transaksi berjalan akan melebar menjadi 2,5%–3,0% dari produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2026, dari 0,11% dari PDB pada tahun 2025.

Sebagaimana diketahui, defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2026 tercatat sebesar US$ 12,5 miliar atau 3,3% dari PDB, melebar dibandingkan dengan defisit pada kuartal sebelumnya sebesar US$ 3,6 miliar 1,0% dari PDB.


Baca Juga: Tudingan Transshipment China, Kadin Soroti Risiko Ekspor RI ke AS

“Kami memperkirakan defisit transaksi berjalan akan melebar pada tahun 2026, didorong oleh impor yang lebih kuat di bawah agenda pro-pertumbuhan pemerintah dan ekspor yang lebih lemah di tengah permintaan global yang lebih lemah dan ketegangan geopolitik dan perdagangan yang terus berlanjut,” tutur Faisal dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).

Ia menilai, pelebaran defisit neraca transaksi berjalan dapat membebani neraca pembayaran, terutama karena arus aset tetap berada di bawah tekanan di tengah ketidakpastian global yang tinggi yang memicu sentimen penghindaran risiko.

Sementara itu, Faisal menyebut Ppada neraca transaksi berjalan, ia melihat risiko penurunan pada neraca barang Indonesia, terutama didorong oleh agenda kebijakan berorientasi pertumbuhan pemerintah, yang diharapkan dapat mempertahankan permintaan domestik dan mendukung pertumbuhan impor yang lebih kuat.

Pada saat yang sama, permintaan global yang lebih lemah, terutama dari Tiongkok, bersamaan dengan ketegangan geopolitik yang terus berlanjut di Timur Tengah dan perang dagang global yang sedang berlangsung, dapat membebani kinerja ekspor.

Perkembangan ini juga dapat mengganggu rantai pasokan global, yang selanjutnya membatasi pertumbuhan ekspor.

“Kami akan terus memantau perkembangan ini dan menilai implikasinya terhadap posisi eksternal Indonesia,” jelasnya.

Dari sisi keuangan, Faisal menilai arus portofolio diperkirakan akan tetap rentan terhadap ketidakpastian global dan domestik, meskipun ada beberapa peningkatan sentimen investor setelah keputusan  Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk mempertahankan klasifikasi pasar negara berkembang Indonesia dan pemeliharaan prospek stabil oleh S&P.

Baca Juga: Tak Ada Batasan, Airlangga Sebut Insentif Pajak Penulis Berlaku Selamanya

Secara global, ketidakpastian seputar perkembangan geopolitik di Timur Tengah terus mengaburkan prospek jalur kebijakan Fed, karena harga energi yang tinggi dapat membuat inflasi AS tetap di atas target 2% untuk jangka waktu yang lama.

“Hal ini dapat memperkuat sentimen penghindaran risiko dan membatasi arus masuk modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” ungkapnya.

Di dalam negeri, Faisal melihat kekhawatiran atas defisit ganda Indonesia juga meningkat, mencerminkan risiko defisit neraca transaksi berjalan yang lebih lebar dan defisit fiskal yang lebih besar di bawah kebijakan pemerintah yang berorientasi pada pertumbuhan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News