Defisit Perdagangan AS Melebar November 2025, Catat Kenaikan Hampir dalam 34 Tahun



KONTAN.CO.ID - Defisit perdagangan Amerika Serikat (AS) melebar tajam pada November 2025, mencatat kenaikan terbesar dalam hampir 34 tahun, didorong lonjakan impor barang modal yang diduga terkait dengan maraknya investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Kondisi ini berpotensi membuat ekonom menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal keempat.

Departemen Perdagangan AS melalui Bureau of Economic Analysis dan Biro Sensus melaporkan, defisit perdagangan melonjak 94,6% menjadi US$56,8 miliar. Kenaikan persentase ini merupakan yang terbesar sejak Maret 1992.


Baca Juga: Laba H&M di Atas Ekspektasi, Waspadai Perlambatan Penjualan Musim Dingin

Sebelumnya, ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan defisit hanya akan naik ke US$40,5 miliar.

Rilis data ini sempat tertunda akibat penutupan sebagian pemerintahan AS selama 43 hari.

Nilai impor AS melonjak 5,0% menjadi US$348,9 miliar. Impor barang naik 6,6% menjadi US$272,5 miliar, dengan impor barang modal melesat US$7,4 miliar hingga mencetak rekor tertinggi.

Lonjakan tersebut terutama ditopang peningkatan impor komputer dan semikonduktor, meskipun impor aksesori komputer justru turun US$3,0 miliar.

Impor barang konsumsi juga mencatat rekor tertinggi, naik US$9,2 miliar, didorong peningkatan impor produk farmasi.

Baca Juga: Klaim Pengangguran AS Turun Tipis, Pasar Tenaga Kerja Masih Tahan Banting

Namun, pergerakan impor produk farmasi terpantau sangat fluktuatif, yang diduga berkaitan dengan kebijakan tarif AS. Sementara itu, impor pasokan industri turun US$2,4 miliar.

Di sisi lain, ekspor AS turun 3,6% menjadi US$292,1 miliar pada November. Ekspor barang anjlok 5,6% ke level US$185,6 miliar, terutama akibat penurunan ekspor pasokan industri dan material sebesar US$6,1 miliar.

Penurunan ini mencerminkan melemahnya ekspor emas non-moneter, logam mulia lainnya, serta minyak mentah yang turun US$1,4 miliar.

Ekspor barang konsumsi juga turun US$3,1 miliar seiring merosotnya pengiriman produk farmasi. Secara keseluruhan, defisit perdagangan barang melebar 47,3% menjadi US$86,9 miliar.

Untuk sektor jasa, impor tercatat menurun, sementara ekspor jasa justru mencapai rekor tertinggi.

Baca Juga: Defisit Perdagangan Kanada Membengkak pada November 2025, Imbas Penurunan Ekspor

Memburuknya defisit perdagangan pada November berpotensi meredam ekspektasi bahwa perdagangan luar negeri akan kembali memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS pada kuartal keempat.

Sebelumnya, perdagangan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua dan ketiga 2025.

Bank Sentral AS wilayah Atlanta (Atlanta Fed) saat ini memproyeksikan PDB AS tumbuh pada laju tahunan 5,4% pada kuartal keempat.

Namun, sejumlah bank besar Wall Street, termasuk Goldman Sachs, memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada jauh di bawah level 3,0%.

Selanjutnya: Laba H&M di Atas Ekspektasi, Waspadai Perlambatan Penjualan Musim Dingin

Menarik Dibaca: Hasil Thailand Masters 2026, 12 Wakil Indonesia Melaju ke Perempatfinal