KONTAN.CO.ID - Defisit perdagangan barang Amerika Serikat (AS) melonjak ke level tertinggi dalam 14 bulan pada Mei 2026, dipicu lonjakan impor yang dilakukan perusahaan untuk mengantisipasi gangguan pasokan dan kenaikan harga akibat konflik di Timur Tengah. Melansir
Reuters, Data Biro Sensus di bawah Departemen Perdagangan AS yang dirilis Jumat (26/6/2026) menunjukkan defisit perdagangan barang meningkat 27,4% menjadi US$ 105,8 miliar.
Baca Juga: Jelang Pemilu Israel, Gadi Eisenkot Berpeluang Gulingkan Benjamin Netanyahu Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak Maret 2025 dan jauh melampaui proyeksi ekonom dalam jajak pendapat
Reuters yang memperkirakan defisit sebesar US$ 85 miliar. Pelebaran defisit juga mencerminkan turunnya ekspor, sehingga perdagangan diperkirakan kembali menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II-2026. Survei dunia usaha menunjukkan banyak perusahaan mempercepat pemesanan barang (
front-loading) selama konflik antara AS dan Iran memicu kenaikan harga komoditas, termasuk minyak dan pupuk, serta mengganggu pelayaran di Selat Hormuz. Meski kesepakatan damai sementara antara AS dan Iran telah mendorong normalisasi arus pelayaran dan menekan harga minyak, ekonom menilai defisit perdagangan masih berpotensi bertahan tinggi karena meningkatnya investasi di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang sangat bergantung pada barang impor.
Baca Juga: Harga Tembaga Menguat ke US$ 13.308 Jumat (26/6), Ditopang Pelemahan Dolar Chief Economist High Frequency Economics Carl Weinberg mengatakan, pelebaran defisit perdagangan menjadi sinyal negatif bagi pertumbuhan pendapatan nasional maupun produk domestik bruto (PDB). "Boom AI harus mampu menghasilkan peningkatan ekspor jasa yang sebanding untuk mengimbangi lonjakan impor peralatan. Jika tidak, ledakan investasi AI justru akan menjadi beban bagi perekonomian," ujarnya.
Baca Juga: Harga Minyak Mentah Terjun Bebas: Ambles 9% di Pekan Ini Impor kendaraan dan peralatan AI melonjak Nilai impor barang AS naik US$ 10,9 miliar atau 3,6% menjadi US$ 313,4 miliar pada Mei, sekaligus menjadi level tertinggi dalam 14 bulan. Kenaikan tersebut terutama didorong lonjakan impor kendaraan bermotor sebesar 6,3% dan impor barang konsumsi yang meningkat 5,7%. Impor barang industri, termasuk minyak bumi, naik 4,8%, sementara impor barang modal bertambah 0,4%.
Baca Juga: Bursa Global Melemah, Kenaikan Harga Apple Picu Kekhawatiran Inflasi Sektor Teknologi Secara tahunan, impor barang modal melonjak 41,9%, mencerminkan tingginya belanja infrastruktur AI. Impor makanan, pakan, dan minuman meningkat 4,3%, sedangkan kategori barang lainnya naik 11,5%. Besarnya impor terjadi meskipun pemerintah Presiden Donald Trump masih memberlakukan tarif terhadap sejumlah produk impor. Di sisi lain, ekspor barang turun 5,4% menjadi US$ 207,7 miliar. Penurunan dipimpin ekspor barang konsumsi yang anjlok 9,2%, diikuti ekspor barang industri yang turun 7%, ekspor barang modal yang melemah 5%, serta kategori barang lainnya yang turun 6,8%. Sebaliknya, ekspor makanan, pakan, dan minuman naik 3,9%, sementara ekspor kendaraan bermotor meningkat tipis 0,5%.
Baca Juga: Harga Emas Bertahan di Atas US$ 4.000, Sikap Hawkish The Fed Masih Jadi Beban Chief Economist FWDBONDS Christopher Rupkey mengatakan, lonjakan impor akan kembali menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal II.
"Tarikan impor terhadap pertumbuhan ekonomi domestik kembali muncul karena industri manufaktur dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan pasar, terlepas dari berbagai kebijakan yang ditempuh pemerintah," katanya. Perdagangan telah menjadi faktor yang menekan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS selama dua kuartal berturut-turut. Sebelum data perdagangan dirilis, sejumlah ekonom memperkirakan ekonomi AS tumbuh sekitar 2,5% secara tahunan pada kuartal II-2026. Pada kuartal I-2026, ekonomi AS tercatat tumbuh 2,1% setelah hanya meningkat 0,5% pada kuartal sebelumnya.