Defisit Perdagangan Vietnam Membengkak, Target Pertumbuhan Ekonomi 10% Terancam?



KONTAN.CO.ID - HANOI. Vietnam tetap optimistis pada target pertumbuhan ekonomi sebesar 10% di tahun ini. Keyakinan itu dimiliki meskipun defisit perdagangan Vietnam melebar dan tantangan lainnya, kata Wakil Menteri Keuangan Vietnam Nguyen Duc Chi pada Rabu (17/6/2026).

Defisit perdagangan Vietnam diperkirakan mencapai US$ 15 miliar pada semester I-2026, kata Nguyen Duc Chi dalam konferensi pers di Hanoi, berbalik dari surplus perdagangan sebesar US$ 7,6 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Chi mengatakan, defisit tersebut disebabkan oleh kenaikan harga impor bahan bakar akibat perang di Timur Tengah.


"Namun, saya yakin pertumbuhan ekspor akan meningkat selama sisa tahun ini, sehingga mempersempit defisit perdagangan untuk sepanjang tahun," katanya.

Baca Juga: PBOC Perbarui Operasi Repo Harian, Perkuat Kendali Likuiditas Jangka Pendek

Selain defisit perdagangan yang melebar, kenaikan biaya bahan bakar juga memberikan tekanan inflasi yang lebih besar pada perekonomian.

Tingkat inflasi tahunan mencapai 5,6% pada bulan Mei, lebih tinggi dari target pemerintah untuk setahun penuh sebesar 4,5%.

Vietnam melaporkan defisit perdagangan sebesar $13,8 miliar dalam lima bulan pertama tahun ini, berbalik dari surplus $5,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Ekonomi yang didorong oleh ekspor menjadi sasaran pemerintahan Trump karena diduga mendistorsi perdagangan dengan kelebihan kapasitas, pelanggaran hak kekayaan intelektual, dan penggunaan barang yang diproduksi dengan kerja paksa.

Awal bulan ini, Amerika Serikat mengusulkan tarif hingga 12,5% untuk impor dari 60 negara, termasuk Vietnam, setelah menilai bahwa negara-negara tersebut gagal mengekang perdagangan barang yang diproduksi dengan kerja paksa.

Vietnam mengatakan, penilaian tersebut tidak sepenuhnya atau secara akurat mencerminkan upaya mitigasi yang telah dilakukannya.