Dekaindo Proyeksikan Ekspor Kakao Tumbuh 10% di Tahun 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo) memprediksi ekspor kakao Indonesia tetap prospektif, dengan peningkatan yang bisa mencapai 5% hingga 10% pada tahun ini dibandingkan tahun lalu.

Berdasarkan data Dekaindo, sepanjang Januari-November 2025, total nilai ekspor kakao tercatat sebesar US$ 3.364.386.089 atau US$ 3,36 miliar. Padahal di periode Januari-Oktober 2025, nilai ekspor kakao mencapai US$ 3,11 miliar.

Sementara itu, volume ekspor mencapai 314.461.791 kg hingga November 2026. Atau naik 9,36% dari 287.536.303 kg pada sepuluh bulan pertama 2025.


Adapun nilai dan volume ekspor tersebut termasuk biji kakao, pasta, lemak, bubuk, dan cokelat.

Baca Juga: WIKA Beton (WTON) Catat Nilai Kontrak Baru Rp 4 Triliun Sepanjang 2025

Ketua Umum Dekaindo, Soetanto Abdullah mengatakan, pada awal tahun ini ekspor kakao Indonesia juga menunjukkan tren positif, meskipun harga sempat terkoreksi di Januari 2026. Namun, pada Februari 2026, harga referensi (HR) dan Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao mulai merangkak naik.

"Kenaikan harga referensi (HR) dan Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao Februari 2026 salah satunya didorong peningkatan permintaan dan suplai," ujarnya kepada Kontan, Rabu (4/2/2026).

Sebagai informasi, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menetapkan harga referensi biji kakao Februari 2026 sebesar US$ 5.717,45 per MT, meningkat 0,97% dari Januari 2026.

Hal ini berdampak pada peningkatan Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao menjadi US$ 5.350 per MT, naik 1,03% dari Januari 2026.

Soetanto menjelaskan, penentuan harga ini dilakukan dengan mengacu pada rata-rata harga Cost, Insurance, dan Freight (CIF) di bursa internasional, terutama CIF NYMEX.

Sementara itu, lanjutnya, peningkatan permintaan tanpa suplai yang cukup akan menaikkan harga. "Sedangkan, peningkatan suplai dari produsen utama, Afrika Barat, akan menurunkan harga," katanya.

Selain itu, rencana masuknya komoditas kakao ke perdagangan bursa berjangka Indeks Komoditas Bloomberg disebut turut memengaruhi harga.

Baca Juga: Kementerian ESDM Targetkan Groundbreaking Proyek PLTSa Pertengahan 2026

Kenaikan harga referensi yang memengaruhi HPE, kata Soetanto, akan berpengaruh terhadap besarnya bea keluar dan pungutan ekspor biji kakao yang saat ini masing-masing sebesar 7,5%.

"Jadi eksportir biji kakao akan membayar total sebesar 15% dari HPE tersebut," imbuhnya.

Selanjutnya: Pembiayaan Emas BCA Syariah Melonjak 238%, Tembus Rp 520 Miliar di 2025

Menarik Dibaca: HP Poco X7 Pro: Edisi Iron Man, Baterai 6000mAh, Worth It?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News