Dekati akhir tahun, APPBI prediksi kunjungan ke pusat perbelanjaan bakal naik



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menilai, tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan terus mengalami tren kenaikan, sejak pemerintah memberlakukan berbagai pelonggaran mobilitas masyarakat yang dimulai sejak awal Agustus 2021 lalu.

APPBI pun memperkirakan rata-rata tren kunjungan ke pusat perbelanjaan akan ditutup pada level 70% sampai tutup tahun nanti. 

"Rata-rata tingkat kunjungan pada tahun 2021 adalah sebesar kurang lebih 70%, yaitu lebih tinggi dari rata-rata tingkat kunjungan pada tahun 2020 lalu yang hanya sekitar 50% saja," ungkap Ketua Umum APPBI, Alphonzus Widjaja saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (12/12). 


Dia menyampaikan, hingga November lalu, tingkat rata-rata kunjungan ke pusat perbelanjaan sudah mencapai sekitar 60%. Pihaknya berharap, dengan banyaknya promo belanja menjelang libur Natal dan Tahun baru dapat turut menopang peningkatan kunjungan serta penjualan di pusat perbelanjaan.  

Baca Juga: GAPMMI ramal industri mamin bisa tumbuh 5% sepanjang tahun 2021, ini pendorongnya

"Setiap menjelang Natal dan Tahun Baru akan banyak diselenggarakan promo belanja untuk meningkatkan penjualan. Khusus selama pandemi, penyelenggaraan acara yang berpotensi untuk menimbulkan kerumunan akan ditiadakan untuk sementara waktu," ungkap Alphonzus.

Lebih lanjut dia berpendapat, kondisi pusat perbelanjaan di tahun depan akan jauh lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya, yakni 2020 dan 2021. APPBI menargetkan, tren kunjungan ke pusat perbelanjaan akan berkisar pada level 80%-90%. 

Menurut Alphonzus, salah satu faktor yang menjadi katalis positif di tahun depan adalah program vaksinasi booster yang direncanakan akan dimulai pada awal tahun depan. Sehingga dapat mendorong pemulihan kondisi usaha. 

Meskipun begitu, sejumlah tantangan juga masih akan dihadapi oleh para pengelola pusat perbelanjaan. Salah satunya adalah rencana kenaikan tarif PPN menjadi 11% yang mulai berlaku pada April 2022 mendatang.  "Dikhawatirkan akan mengurangi tingkat pertumbuhan penjualan yang pada akhirnya akan mengganggu tingkat pemulihan kondisi usaha," tuturnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi