KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Belakangan ini gelombang ekspansi berupa akuisisi tambang di luar negeri marak dilakukan oleh emiten-emiten Indonesia. Mereka melihat peluang besar yang belum tentu bisa dicapai jika ekspansi tersebut dilakukan di dalam negeri.
Dalam berita sebelumnya, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berencana mengakuisisi perusahaan tambang tembaga dan emas asal Australia, Loyal Metals (LLM). Melalui Scheme Implementation Deed (SID) atau Perjanjian Implementasi Skema, BUMI mengajukan penawaran akuisisi LLM senilai kisaran US$ 79 juta dengan harga US$ 0,45 per saham. Ini bukan kali pertama BUMI ekspansi ke luar negeri. Pada 2025 lalu, emiten Grup Bakrie ini telah mengakuisisi saham Wolfram Limited dan Jubilee Metals Limited yang juga berasal dari Australia. Baca Juga: Rekomendasi Teknikal Saham EMAS, DSNG, BBNI untuk Perdagangan Rabu (29/4/2026) Sebelumnya, PT Petrosea Tbk (PTRO) telah menyelesaikan proses penawaran atau binding offer dengan Tolu Minerals Limited pada 20 April 2026. Penawaran itu terkait rencana pembelian instrumen surat utang konversi (convertile note) senilai US$ 23,75 juta. Nantinya, PTRO diberikan hak untuk mengonversi surat utang tersebut menjadi 14.615.385 saham baru Tolu Minerals dengan harga US$ 1,625 per saham. Tolu Minerals merupakan perusahaan asal Australia yang mengoperasikan Tambang Emas Tolukuma, Papua Nugini. Perusahaan ini sedang menggelar eksplorasi dan pengembangan emas dan tembaga di negara tersebut. Selain itu, ada PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) yang berencana mengakuisisi aset tambang di Mongolia milik Poh Golden Ger Resources Pte Ltd (PGGR). PGGR telah menandatangani Framework Agreement untuk kerja sama pertambangan dengan kontraktor Engineering, Procurement and Construction + Finance (EPC+F) berskala besar di Mongolia. EPC+F tersebut berencana melakukan investasi sebesar lebih dari US$ 100 juta untuk mengimplementasikan operasional pertambangan proyek-proyek Poh Group atau NINE dan PGGR, dengan kapasitas produksi tahunan diproyeksikan lebih dari 20 juta ton. NINE sendiri telah menggelar RUPST pada 21 April 2026 guna meminta persetujuan dari pemegang saham atas rencana rights issue untuk menuntaskan agenda akuisisi tersebut. PT United Tractors Tbk (UNTR) juga sedang menjajaki peluang untuk mengakuisisi tambang mineral di luar negeri, tepatnya Australia. Hanya saja, sejauh ini belum ada keterangan lebih lanjut mengenai progres ekspansi tersebut. Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, setidaknya ada tiga alasan utama yang melatarbelakangi sejumlah emiten untuk mencari aset tambang baru di negeri seberang. Pertama, regulasi domestik yang makin ketat, seperti Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang dibatasi dan kuota Domestic Market Obligation (DMO) yang menekan margin laba penjualan batubara. Kondisi ini membuat emiten tambang, khususnya komoditas batubara, membutuhkan pendapatan tambahan di luar jangkauan regulasi Indonesia. Baca Juga: Bukit Uluwatu (BUVA) Masuk Radar Buy, Ini Target Harga dan Level Kuncinya Kedua, aset mineral strategis di Tanah Air makin langka dan kompetitif. Sebaliknya, negara seperti Australia hingga Papua Nugini masih memiliki banyak aset tambang mineral yang belum tergarap dengan valuasi relatif wajar. Ketiga, tekanan penerapan prinsip Environmental, Social, Governance (ESG) dari investor global turut mendorong emiten tambang untuk mendiversifikasi bisnisnya. Komoditas mineral non-batubara jadi yang paling banyak dicari oleh emiten lantaran permintaan tergolong kuat secara jangka panjang. Dengan mengakuisisi tambang di luar negeri, emiten berpotensi mendiversifikasikan risiko regulasi, memperoleh akses ke komoditas premium, dan menciptakan narasi re-rating valuasi. "Risikonya ada pada eksekusif di yurisdiksi asing yang berbeda hukum dan budaya, potensi pembengkakan capex, kenaikan beban utang, dan keterlambatan proyek yang hampir selalu terjadi di proyek tambang greenfield," ungkap Wafi, Selasa (28/4). Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menambahkan, tekanan transisi energi membuat emiten batubara perlu melakukan diversifikasi, sehingga akuisisi tambang mineral di luar negeri menjadi salah satu opsi menjanjikan. Ini mengingat valuasi aset di luar negeri relatif lebih kompetitif dibandingkan di Tanah Air, ditambah lagi emiten akan mendapat akses cadangan mineral kritis yang permintaannya didorong elektrifikasi global. "Kecenderungan ke mineral non-batubara sangat rasional karena komoditas ini memiliki tailwind struktural jangka panjang," kata dia, Selasa (28/4). Abida percaya tren akuisisi tambang luar negeri tidak akan berakhir. Tren ini berpotensi berlanjut paling tidak dalam 3--5 tahun ke depan karena didorong tekanan transisi energi, harga mineral kritis yang tinggi, serta kebijakan hilirisasi pemerintah. Meski begitu, emiten harus mempertimbangkan sejumlah hal ketika hendak merencanakan akuisisi tambang di luar negeri. Di antaranya adalah kualitas cadangan yang terverifikasi independen, kepastian regulasi dan izin lingkungan, serta harga akuisisi yang sesuai dengan nilai cadangan. Wafi juga meyakini aktivitas akuisisi tambang di luar negeri berpotensi meningkat pada 2026, terutama untuk komoditas mineral kritis dan emas. Emiten yang paling berpeluang untuk menggelar ekspansi tersebut adalah perusahaan yang punya arus kas kuat, rekam jejak panjang di industri pertambangan, dan sudah punya jaringan di wilayah hukum negara tujuan. "Rencana akuisisi tambang juga akan mendorong emiten untuk memanfaatkan berbagai sumber pendanaan baik pinjaman bank, obligasi, maupun rights issue," jelas Wafi. Dari situ, Wafi merekomendasikan hold saham BUMI dan UNTR dengan target harga masing-masing di level Rp 220 per saham dan Rp 28.725 per saham. Sebaliknya, saham PTRO direkomendasikan beli dengan target harga di level Rp 7.600 per saham. Di lain pihak, Wafi menyarankan beli saham UNTR dengan target harga di level Rp 32.000 per saham. UNTR tengah membidik akuisisi tambang mineral di Australia. Hal ini didukung oleh arus kas bebas UNTR yang kuat dengan risiko dilusi minim. Baca Juga: Bukit Uluwatu (BUVA) Masuk Radar Buy, Ini Target Harga dan Level Kuncinya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News