KONTAN.CO.ID – MADINAH. Puluhan tahun mengabdi sebagai abdi dalem, Taruno Tanoyo akhirnya sampai pada perjalanan yang ia nantikan sejak lama, menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Tak semua perjalanan menuju Tanah Suci ditempuh dengan mudah. Bagi sebagian jemaah, ibadah haji adalah buah dari kesabaran panjang, kerja keras, dan pengorbanan yang tidak sedikit, termasuk melepas aset yang telah dikumpulkan bertahun-tahun. Salah satunya dialami Taruno Tanoyo, jemaah haji lansia kelahiran 8 Desember 1941 yang juga abdi dalem Pura Pakualaman Yogyakarta. Ia menjadi salah satu jemaah tertua dalam kloternya pada musim haji tahun ini.
Baca Juga: Jumhur Hidayat Resmi Dilantik Jadi Menteri Lingkungan Hidup Untuk mewujudkan niat berhaji, Taruno tidak hanya mengandalkan tabungan dari pengabdiannya sejak 1965 di lingkungan keraton, tetapi juga pernah menjual seluruh hewan ternaknya. Keputusan itu ia ambil sebagai bagian dari upaya mengumpulkan biaya perjalanan ke Tanah Suci. Sejak muda, Taruno telah mengabdi sebagai abdi dalem. Seiring berjalannya waktu, keinginan untuk menunaikan ibadah haji semakin kuat, hingga akhirnya ia mendaftarkan diri dari Kulonprogo, daerah tempat ia tinggal sejak lahir. Sebelumnya, ia sempat menunaikan ibadah umrah pada 2018. Pengalaman tersebut semakin menguatkan tekadnya untuk kembali ke Tanah Suci, kali ini untuk menunaikan ibadah haji bersama sang istri, Sumarni (56). ''Alhamdulillah masih ada sisa uang untuk mendaftarkan haji, sehingga kami mendaftarkan berdua dengan istri,’' kata Taruno didampingi sang istri Ny Sumarni ketika ditemui Hotel tempatnya menginap. Pada musim haji 2026, Taruno berangkat melalui kloter pertama YIA 1 yang tiba di Madinah pada Rabu (22/4). Ia dan istrinya bersyukur karena ditempatkan di hotel yang lokasinya sangat dekat dengan Masjid Nabawi, hanya sekitar 50 meter. Kedekatan itu sangat membantu, terutama karena kondisi fisiknya yang masih mengandalkan tongkat untuk berjalan. Jarak yang pendek membuatnya lebih mudah beribadah tanpa harus menempuh perjalanan jauh.
Baca Juga: Belanja Digenjot Awal Tahun, Wamenkeu Pastikan Defisit APBN Tetap Aman Di sisi ekonomi, penghasilan Taruno sebagai abdi dalem tergolong terbatas. Namun ia disiplin menabung sedikit demi sedikit dari hasil kerja. Sementara sang istri turut menopang kebutuhan keluarga dengan berjualan makanan di Pantai Glagah Yogyakarta saat akhir pekan dan hari libur. ‘'Hasil jualan juga tidak banyak, tetapi cukup untuk membantu Bapak,’’ katanya. Ia berjualan nasi bungkus dan gorengan tiap Sabtu dan Minggu serta pada tanggal merah ketika tempat wisata seperti Pantai Glagah ramai pengunjung. Untuk memperkuat biaya keberangkatan haji, sekitar 50 ekor kambing miliknya juga telah dijual. Sebagian ternak diberikan kepada anak-anaknya, sementara sisanya menjadi tambahan biaya perjalanan ke Tanah Suci. Selain itu, beberapa hewan juga digunakan untuk pelaksanaan akikah dirinya dan sang istri di usia lanjut sebagai bentuk rasa syukur. Selain itu, kambing juga disembelih untuk akikah dirinya sendiri 2 ekor dan istrinya 1 ekor. ‘'Ya sudah usia tua ini akikahan, karena mampunya baru sekarang,’' ungkap Sumarni. Penyembelihan hewan ternak untuk akikahan merupakan wujud rasa syukur atas kelahiran anak yang disertai pula dengan menggunting rambut. Biasanya bertepatan dengan hari ketujuh kelahiran. Namun karena ketidaktahuan ataupun ketidakmampuan, Taruno dan istri baru akikahan pada usia sepuh. Kini, Taruno telah memiliki 10 cucu dan 25 cicit. Ia berharap ibadah haji yang dijalani dapat menjadi penyempurna rukun Islam yang kelima. ‘’Nyuwun donga mugi kiat nindakaken haji sak menika (mohon doa semoga diberi kekuatan bisa menjalan haji tahun ini),’' katanya.
Baca Juga: Jumhur Tetap Akan Pimpin Aksi May Day, Siap Kawal 300.000 Buruh di Monas Kisah Taruno menjadi pengingat bahwa niat yang kuat, kesabaran, dan keikhlasan dapat membuka jalan menuju impian beribadah ke Tanah Suci. ‘'Saya itu modalnya niat ingsun, bismillah budhal (saya itu modalnya demi Gusti Allah, Bismillah berangkat haji,’' tuturnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News